Selasa, 23 Maret 2021

 HIKAYAH YANG KE-SERATUS DELAPAN: "PERISTIWA YANG DIALAMI SEBAGIAN SAHABAT PADA MASA JAHILIYAH"


Diceritakan: Bahwasanya Zaid bin 'Amr bin Nufail bin 'Abdul 'Uzza, ia adalah anak paman 'Umar bin Khattab, ia mencari agama Ibrahim sebelum diutusnya Rasulullah ﷺ. Dan ia tidak pernah menyembelih untuk berhala, tidak juga memakan bangkai dan darah.

Pada suatu hari, Zaid bin 'Amr bin Nufail keluar bersama Waraqah bin Naufal mencari agama Ibrahim. Kemudian orang² Yahudi menawarkan agama kepada mereka. Waraqah bin Naufal memeluk agama Yahudi, tetapi Zaid bin 'Amr bin Nufail tidak.

"Agama ini semata² seperti agama kaum kami, kalian menyekutukan Tuhan sebagaimana mereka," ucap Zaid bin 'Amr bin Nufail.

Kemudian Zaid bin 'Amr bin Nufail pergi menemui seorang pendeta.

"Engkau mencari agama yang tidak ada di atas bumi saat ini," kata sang pendeta.

"Agama apa itu..??" tanya Zaid bin 'Amr bin Nufail.

"Agama Ibrahim."

"Bagaimana agama Ibrahim..??"

"Engkau menyembah Allah Swt, dan tidak menyekutukanNya dengan apa pun, engkau shalat menghadap ke Ka'bah," jelas pendeta.

Zaid bin 'Amr bin Nufail melakukan ini sampai meninggal dunia.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: bahwa pada suatu hari, Zaid bin 'Amr bin Nufail bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ sebelum diangkat menjadi nabi. Saat itu Rasulullah ﷺ sedang makan bersama Abu Sufyan dalam perjalanannya. Abu Sufyan memanggil Zaid bin 'Amr bin Nufail untuk makan bersama.

"Wahai anak saudaraku, aku tidak makan daging yang disembelih untuk berhala," ucap Zaid bin 'Amr bin Nufail.

Ketika mendengar itu, Rasulullah ﷺ tidak makan daging itu sampai diangkat menjadi nabi.

Dalam sebuah riwayat: Sa'id bin Zaid (putra Zaid) ia adalah salah satu sahabat yang diberi jaminan surga, dan termasuk orang yang ikut hijrah tahap pertama, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ: "Telah sampai kepadamu tentang ayahku. Apakah engkau akan memintakan ampun baginya..??"

Selanjutnya Rasulullah ﷺ memintakan ampun bagi ayah Sa'id bin Zaid.

Rasulullah ﷺ juga berkata: "Pada hari kiamat kelak, ia dibangkitkan dalam satu umat sendiri."

📚[An-Nawadir. Hal. 90]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS SEMBILAN: "KEANEHAN YANG DI ALAMI 'UMAR BIN 'ABDUL 'AZIZ"


Diceritakan: Pada masa 'Umar bin 'Abdul 'Aziz pernah terjadi krisis pangan yang amat parah. Kemudian beberapa utusan dari bangsa Arab datang kepadanya, yang kemudian dipilih satu orang untuk berbicara dengannya.

Orang itu berkata kepada 'Umar bin 'Abdul 'Aziz: "Wahai Amirul Mukminin, sungguh kami datang dengan membawa mara bahaya yang besar. Kulit yang membungkus tubuh kami telah kering sebab tidak ada makanan yang kami makan. Sementara kesenangan kami berada di Baitul Mal. Dan harta ini tidak lepas dari tiga bagian, yaitu: ada kalanya untuk Allah Swt (perjuangan di jalan Allah Swt), ada kalanya untuk engkau, dan ada kalanya untuk hamba² Allah Swt. Apabila digunakan untuk perjuangan di jalan Allah Swt, Allah Maha Kaya. Apabila itu untuk engkau, sedekahkanlah kepada kami. Sebab sesungguhnya Allah Swt membalas orang² yang bersedekah. Dan apabila untuk hamba² Allah Swt, maka berikanlah harta tersebut sesuai haknya."

Begitu ucapan itu selesai disampaikan, kedua mata 'Umar bin 'Abdul 'Aziz seketika berkucur mengeluarkan air mata.

"Sesungguhnya urusannya seperti yang Anda ceritakan wahai tamuku," ucap 'Umar bin 'Abdul 'Aziz.

'Umar bin 'Abdul 'Aziz memerintahkan para pelayan agar memberikan kebutuhan² mereka yang diambilkan dari Baitul Mal. Ketika tamu itu hendak berpamitan, 'Umar bin 'Abdul 'Aziz berkata: "Wahai tamuku, sebagaimana engkau sampaikan kepada kami tentang kebutuhan² hamba² Allah Swt, dan engkau perdengarkan kata² mereka kepada kami, maka sampaikan kata² dan kebutuhanku kepada Allah Swt."

Dengan isyarah mengangguk, tamu itu kemudian menengadah ke langit: "Wahai Tuhanku, dengan keagungan dan kemuliaan-Mu, lakukanlah kepada 'Umar sebagaimana ia melakukan kepada rakyatnya."

Belum selesai berdoa, langit menurunkan hujan deras. Saat itu sebongkah es besar jatuh mengenai batu besar. Akhirnya batu tersebut pecah. Dari pecahan batu itu, terdapat kertas yang bertuliskan: "Ini adalah pembebasan Allah Swt kepada 'Umar bin 'Abdul 'Aziz dari api neraka".

📚[An-Nawadir. Hal. 90_91]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS SEPULUH: "RAKYAT DAN KEADILAN DAN PERISTIWA YANG TERJADI"


Diceritakan: suatu hari Anu Syarwan seorang pemimpin yang adil keluar untuk berburu. Di tengah perburuan, ia berpisah dengan rombongan yang tanpa disengaja berada di belakang hewan perburuan. Akan tetapi ia kehausan. Sesaat kemuadian Ia melihat pekarangan yang dekat dengannya. Ia mendekatinya hingga berdiri di depan pintu desa suatu kaum. Ia bertanya kepada orang² untuk meminta air.

Keluarlah seorang perempuan yang masih sangat muda. Tatkala tatapan tertuju kepada Anu Syarwan, perempuan muda itu langsung kembali ke rumah dengan cepat. Perempuan muda itu menumbuk tebu yang memabukkan, dan mencampurinya dengan air. Ia keluar dari rumah dengan membawa mangkuk yang berisi minuman buatannya tersebut untuk Anu Syarwan.

Anu Syarwan melihat isi mangkuk tersebut yang ternyata bercampur debu dan benda² kotor. Namun rasa haus tidak tertahankan membuatnya meminumnya sedikit demi sedikit sampai habis.

"Alangkah nikmatnya air ini, seandainya tanpa kotoran²" ucap Anu Syarwan.

"Aku memasukkannya dengan sengaja," jawab perempuan muda.

"Mengapa engkau lakukan itu..??"

"Ketika aku melihatmu kehausan, aku khawatir engkau meminumnya dalam satu tegukan. Maka aku persulit itu dengan kotoran²."

Anu Syarwan terkejut mendengar ungkapan perempuan ini, sebab kecerdasan dan ketangkasannya. Ia bertanya lagi: "Berapa tebu yang engkau peras..??"

"Aku memeras satu tebu saja," kata perempuan tersebut.

Anu Syarwan terkejut lagi mendengar jawaban tersebut.

Setelah itu ia mencari pelepah kurma di desa yang ditemuinya. Ia melihat sedikit sekali pajak yang dikeluarkan desa tersebut. Dalam hatinya ia berkata untuk meminta tambahan pajak.

Selang beberapa waktu ia kembali ke desa itu sendirian. Seperti sebelumnya, ia berdiri terlebih dahulu di depan pintu masuk desa dan mencari air. Perempuan yang pernah menjamunya dengan air keluar lagi. Perempuan ini mengetahui keperluannya. Ia kembali ke rumah dengan cepat untuk mengeluarkan air. Akan tetapi, pada saat itu ia agak lambat memberikan air. Ketika ia keluar, Anu Syarwan bertanya: "Mengapa engkau lambat..??"

"Kebutuhanmu tidak cukup dengan satu tebu, akan tetapi dengan tiga tebu," jawab si perempuan.

"Apa penyebabnya..??" Tanya Anu Syarwan.

"Sebab perubahan niat seorang yang bijak. Kami telah mendengar bahwa apabila niat pemimpin kepada kaum telah berubah maka keberkahan dan kebaikan² kaum menjadi hilang."

Anu Syarwan tertawa mendengar ucapan itu. Ia menghilangkan pikiran dalam hatinya untuk meminta tambahan pajak.

Kemudian ia menikahi perempuan muda itu karena kekaguman pada kefasihannya.

📚[An-Nawadir. Hal. 91_92]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS SEBELAS: "PERISTIWA YANG TERJADI PADA RAJA DISAAT MENYELIDIKI KONDISI RAKYATNYA"


Diceritakan: Sesungguhnya raja negeri Kasytasit mempunyai seorang menteri bernama Rasit Rausy, dan dengan nama ini, raja mengira menterinya itu orang shalih dan bertakwa. Dan raja juga tidak pernah mendengar seseorang pun berkata buruk terhadap menterinya itu, dan tidak memperdapatkan yang mengatakan bahwa meterinya itu tidak besikap baik.

Pada suatu hari, menteri tersebut berkata kepada raja: "Sesungguhnya rakyat sombong karena banyaknya keadilan kita kepada mereka, dan sedikitnya pengajaran adab kita kepada mereka. Ada kabar bahwa apabila seorang pemimpin adil, maka rakyat yang akan curang. Sekarang sikap² mereka yang rusak sudah kelihatan. Kita harus menata moral mereka dan mencegah perbuatan negatif mereka. Begitu juga kita harus menjauhkan para pemberontak, membuang kefasikan yang suka berbuat onar, dan menata orang² shalih."

Akhirnya semua orang diatur oleh khalifah tentang tata krama mereka karena bujukan menteri. Raja memberikan kekuasaan penuh kepada menteri untuk mengurus semua itu.

Ketika itu, rakyatlah yang menjadi korban, mereka menjadi lemah sebab semua keadaan menjadi serba sulit, dan gudang harta habis semua.

Lama-kelamaan, kebohongan menteri dicium oleh khalifah. Khalifah ingin mengetahui sendiri gudang simpanan harta. Namun betapa kaget, ia tidak menemukan apa pun yang digunakan untuk penghidupan tentara.

Karena kegelisahan hatinya, suatu hari khalifah pergi berkeliling melihat kondisi rakyatnya. Dari kejauhan ia melihat perkemahan, dan ia pun menuju ke sana. Di sana ia melihat kambing² yang sedang beristirahat, dan anjing yang disalib. Kemudian seorang pemuda datang yang tidak mengetahui siapa yang datang mengucapkan salam kepada khalifah, dan mempersilakan singgah di tendanya. Pemuda itu memuliakan sang khalifah, dan memberikan hidangan yang dipunyai. Akan tetapi khalifah bersikap lain.

"Aku tidak akan makan makananmu, sampai engkau memberi tahu aku perihal anjing itu..??" Ucap raja.

"Anjing itu aku percayai sebagai penjaga kambing²ku. Akan tetapi ia bersekongkol dengan serigala. Ia tidur dan bangun bersamanya. Setiap hari serigala tersebut datang, dan mengambil satu per satu kambingku, sementara aku tidak mengetahuinya. Aku berpikir tentang jumlah kambingku yang berkurang setiap hari. Kemudian aku mengetahui persis bahwa serigalalah yang memakannya, dan anjingku hanya diam. Maka aku berkesimpulan bahwa anjingku telah berkhianat, dan ia yang menjadi penyebab hilangnya kambingku. Lalu aku menangkapnya dan menyalibnya, jawab pemuda itu."

Setelah mendengar penjelasan itu, khalifah pun mulai berpikir. Lalu pemuda itu berkata: "Kami memelihara kambing², maka wajib bagi kami untuk bertanya sampai benar² mengetahui kenyataannya."

Sang khalifah itu kembali ke istana, melihat dan berpikir tentang segalanya yang ada di sana. Ia mengetahui bahwa kerusakan pada pemerintahannya disebabkan oleh kejahatan menteri.

Sang khalifah membuat perumpamaan:

"Barang siapa tertipu karena nama, maka ia termasuk perusak, yang pulang tanpa bekal. Dan barang siapa berkhianat tentang bekal, maka ia kembali tanpa ruh."

Selanjutnya sang khalifah memerintahkan pengawal untuk menangkap menteri dan memerintahkannya agar disalib.

Wallaahu a'lam.

📚[An-Nawadir. Hal. 92_93]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA BELAS: "PERISTIWA YANG TERJADI KARENA CERDASNYA RAJA²"


Diceritakan: Raja Iskandar mengutus seseorang kepada Raja Daran bin Daran, tatkala utusan kembali ke istana dan menyampaikan jawaban, Raja Iskandar ragu dengan salah satu kalimat yang diungkapkan utusan tersebut. Karena diragukan atas laporannya, utusan tersebut berkata: "Sungguh, aku mendengar kata² tersebut dengan kedua telingaku ini."

Selanjutnya, Raja Iskandar menuliskan jawaban surat seperti yang dikatakan utusan untuk dikirimkan kepada Raja Daran. Ketika membaca surat tersebut, Raja Daran meminta diambilkan pisau untuk memotong kalimat yang diragukan Raja Iskandar. Lalu Raja Daran mengembalikan surat tersebut kepada Raja Iskandar dengan menambahkan tulisan:

"Sesungguhnya niat baik, tabiat mulia, dan dasar² kekuatan raja menunjukkan kebaikan kata² utusan yang dapat dipercaya dan kejujurannya. Sekarang aku telah memotong kalimat itu, sebab itu bukan kata²ku. Akan tetapi aku tidak mempunyai cara untuk memotong lidah utusanmu."

Surat tersebut disampaikan kepada Raja Iskandar untuk utusannya. Setelah dibaca, Raja Iskandar berkata kepada utusannya, "Apa yang menyebabkan engkau mengada² kalimat itu di hadapan raja..??"

"Maaf Tuan, sebab apabila aku berkata sama persis dalam surat, hakku akan hilang, dan ia akan membenciku," jawab utusan.

"Celakalah kamu! Apakah kami mengutus kamu untuk kebaikan kami atau untuk kebaikan dirimu sendiri..??" bentak Raja Iskandar.

Kemudian raja memerintahkan utusan itu menjulurkan lidah. Kemudian dipotonglah lidah utusan tersebut.

Orang² berkata bahwa orang yang pertama kali mengubah keadaan para raja dan merusak perjalanan mereka adalah Yazidjarad. Suatu hari, seekor kuda yang amat elok dan indah datang di depan pintu rumahnya. Tidak pernah seorang pun mengetahui kuda sebaik kuda itu. Karena kuda tersebut begitu menarik, Yazidjarad memerintahkan bawahannya untuk menangkapnya. Akan tetapi mereka tidak mampu meringkusnya. Usaha menangkap kuda tersebut memakan perjalanan jauh hingga sampai ke istana, dan kuda itu berhenti di sana.

"Kuda ini adalah hadiah dari Allah Swt khusus untuk kami" begitu kata Yazidjarad yang hendak menguasai kuda tersebut. Yazidjarad berdiri dan mengusap kepala serta punggung kuda tersebut. Si kuda tidak bergerak dan mengelak. Ia meminta pengawal mengambilkan pelana. Ia memakaikan pelana tersebut pada kuda yang amat istimewa tersebut. Ia menarik tali pelana dengan kuat pada tubuhnya. Ia condong pada arah punggungnya untuk meletakkan tali mulutnya. Tiba² kuda tersebut menendang dengan keras hingga mengenai hatinya. Seketika itu pula ia mati.

Sementara orang² tidak mengetahui dari mana kuda itu datang dan ke mana perginya kuda tersebut. Maka orang² menganggap bahwa kuda itu adalah malaikat yang diutus Allan Swt untuk menghancurkan Yazidjarad dan membebaskan rakyat dari penderitaan dan kezhalimannya.

Segala puji dan pemberian bagi Allah Swt.

📚[An-Nawadir. Hal. 93_94]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA BELAS: "MENJAGA DIRI DAN KEMULIAAN JIWA"


Diceritakan: Bahwasanya kepala daerah Imarah bin Hamzah datang kepada khalifah al-Mansur, Dan di istana, Imarah bin Hamzah dipersilakan oleh Al-Mansur. Peristiwa itu terjadi pada hari saat Al-Mansur melihat banyak kezhaliman.

Seorang laki² berdiri dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku adalah orang yang dizhalimi!"

"Siapa yang menzhalimimu..??" tanya Al-Mansur.

"Imarah bin Hamzah, la telah mengambil kebun dan pekaranganku," jawabnya.

Selanjutnya Al-Mansur memerintahkan Imarah bin Hamzah berdiri dari majelisnya, dan meminta peraduan orang tersebut dibawa ke sidang.

segera Imarah bin Hamzah berkata: "Wahai Amirul Mukminin, apabila pekarangan itu miliknya maka aku tidak menentangnya. Akan tetapi jika pekarangan itu milikku maka aku telah menghibahkan itu kepadanya. Aku tidak akan berdiri dari majelis yang dimuliakan Amirul Mukminin sebab pekaranganku sendiri."

Para pejabat dan orang² yang hadir kagum dengan kemuliaan diri Imarah bin Hamzah dan keagungan niatnya.

📚[An-Nawadir. Hal. 94]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT BELAS: "PERISTIWA YANG DIALAMI ABDULLAH BIN AL-MUBARAK DAN AYAHNYA"


Diceritakan: Bahwasanya seorang laki² yang bernama Nuh bin Maryam tinggal di kota Marwan, dan ia adalah pemimpin dan hakim negara yang mempunyai kebaikan, kekuasaan, dan tingkah yang disenangi. Ia mempunyai seorang putri yang sangat cantik dan ber~akhlak mulia. Banyak orang telah melamarnya, baik penguasa, pejabat, dan orang² kaya. Akan tetapi ia merasakan bahwa tidak seseorang pun dari semua itu yang cocok dengan anaknya, dan ia bingung siapa yang dipilih bagi putrinya.

Nuh bin Maryam mempunyai seorang budak berbangsa Hindia yang berkulit hitam, namanya al-Mubarak. Nuh bin Maryam juga mempunyai pohon² dan kebun. Ia berkata kepada budaknya:

"Pergilah ke kebun, dan jagalah buahnya."

Budak itu pun pergi ke kebun, dan menetap disana selama dua bulan.

Setelah beberapa waktu tinggal di kebun, tuannya datang.

"Wahai al-Mubarak, petikkan anggur untukku," perintah sang tuan.

Kemudian si budak mengambilkan anggur bagi tuannya. Ternyata tuannya merasakan bahwa buah anggur tersebut kecut, lalu ia kembali meminta kepada budaknya.

"Ambilkan kepadaku anggur yang lain."

Si budak memetikkan buah anggur lagi. Dan ternyata sama saja, buah anggur tersebut rasanya juga kecut. Dengan sedikit kesal, tuannya berkata:

"Mengapa engkau petikkan aku anggur yang kecut, padahal di kebun ini buahnya banyak..??"

"Tuanku, aku tidak tahu antara yang manis dengan yang kecut," jawab si budak.

"Subhanallah! Engkau tinggal di sini selama dua bulan dan tidak mengetahui antara yang manis dengan yang kecut..??"

"Demi hakmu Tuan! Aku tidak merasakan buah di sini sedikit pun," ungkap si budak.

"Mengapa engkau tidak memakannya sama sekali..??" tanya sang tuan.

"Tuanku, engkau hanya menyuruhku menjaganya tanpa memerintahkanku memakannya. Aku tidak ingin merusak hartamu, dan menyalahi perintahmu," jelas si budak.

Penjelasan budaknya tersebut membuat Nuh bin Maryam terkejut, sebab agama dan tanggung-jawabnya. Lalu Nuh bin Maryam berkata: "Aku menyukai sikapmu, dan aku ingat sesuatu untukmu. Engkau harus melakukan apa yang aku perintahkan."

"Aku taat kepada Allah Swt dan kepada engkau wahai Tuan," ucap si budak.

"Aku mempunyai seorang putri yang sangat cantik, dan banyak orang yang telah melamarnya, baik pejabat, penguasa, maupun orang kaya. Namun aku tidak tahu dengan siapa aku mengawinkannya. Maka berikan pendapatmu siapa yang engkau anggap pantas menjadi suaminya." Pinta sang tuan.

"Wahai Tuanku, orang² di masa Jahiliah menyukai seseorang karena nenek moyang, nasab, agama, dan hisab. Sementara Yahudi dan Narani menyukai seseorang karena ketampanan dan kecantikan. Pada zaman Rasulullah ﷺ mereka menyukai seseorang karena agama dan takwa. Dan pada zaman sekarang mereka menyukai seseorang karena harta dan pangkat. Maka pilihlah di antara itu semua, Tuan," ungkap si budak.

"Aku menyukai tentang agama dan takwa. Dan aku ingin menikahkan engkau dengan anakku. Sebab aku menemukan pada dirimu terdapat agama, kebaikan, dan amanah," jawab Nuh bin Maryam.

"Wahai Tuanku, aku hanyalah seorang budak lemah, hitam, dan berbangsa Hindia. Engkau telah membeliku dengan hartamu. Bagaimana engkau menikahkan aku dengan putrimu..?? Bagaimana anakmu akan suka kepadaku..??" ungkap si budak.

"Bangunlah! Mari kita kembali ke rumah untuk melihat masalah ini," kata Nuh bin Maryam.

Ketika sampai di rumah, sang hakim Nuh bin Maryam berkata kepada istrinya: "Sesungguhnya pemuda ini mempunyai agama yang baik dan bertakwa. Aku ingin menikahkan putri kita dengannya. Bagaimana pendapatmu..??"

"Engkau yang memutuskan wahai suamiku. Akan tetapi aku akan menemui ia terlebih dahulu dan memberitahunya. Aku akan memberitahumu jawabannya," timpal istrinya.

Istri Nuh bin Maryam segera pergi kepada putrinya, dan memberi tahu tentang yang dikatakan ayah anak gadis tersebut.

"Terserah kalian, ibu dan ayah. Aku tidak ingin menentang kalian."

Istri itu pun kembali kepada suaminya dan memberi tahu bahwa putrinya setuju dengan rencana ayahnya. Maka Nuh bin Maryam menikahkan putrinya dengan seorang budak hitam. Lalu Nuh bin Maryam dan istrinya memberikan harta berlimpah kepada kedua pasangan itu.

Dari pernikahan tersebut, seorang anak bernama Abdullah lahir, yang kemudian terkenal dengan Abdullah bin al-Mubarak, ia terkenal di kalangan ulama dan para wali.

Di antara karamah Abdullah bin Mubarak adalah pada suatu hari ulama berdatangan ke rumahnya, dan ia idak ada harta apa² kecuali kuda yang digunakan untuk berhaji setiap tahun dan berjuang setiap tahun pula. Ia menyembelih kuda tersebut, memasak, dan menyuguhkannya kepada mereka.

Istrinya berkata: "Engkau tidak mempunyai apa² di dunia kecuali kuda ini, dan sekarang engkau telah menyembelihnya."

Dengan segera ia masuk ke dalam rumah. Ia mengeluarkan hartanya seukuran mahar yang diberikan untuk istrinya. la memberikan harta itu kepada istrinya dan menceraikannya seketika. Lalu ia berkata: "Seorang perempuan yang membenci tamu tidak pantas bagi kami."

Selang beberapa hari, seorang laki² datang kepadanya dan berkata: "Wahai pemimpin orang Islam, aku mempunyai seorang anak yang ibunya telah meninggal dunia. Setiap hari ia merobek pakaian. Kami sedih melihatnya, dan ia ingin hadir di majelismu."

"Katakan kepadanya sesuatu yang membuatnya senang, barangkali ia akan senang," kata Abdullah bin al-Mubarak.

Ketika Abdullah bin Mubarak duduk di mimbar, dan menjelaskan sesuatu tentang ibunya, perempuan itu senang. Maka hatinya pun lembut. Ia berdiri dan berkata: "Aku tidak akan mengulangi mengingatnya, dan tidak akan membenci Tuhan."

Setelah majelis tersebut selesai, perempuan itu berkata kepada ayahnya di rumah: "Wahai ayah, aku mempunyai keperluan."

"Apa keperluanmu, putriku..??" tanya ayahnya.

"Engkau pernah berkata kepadaku bahwa anak zaman dan pemilik tingkah akan mencariku darimu. Sungguh aku bersaksi kepada Allah Swt agar engkau tidak mengawinkan aku, kecuali dengan Abdullah bin al-Mubarak. Ia mempunyai agama yang kuat."

Akhirnya sang ayah mengawinkan anaknya dengan Abdullah bin al-Mubarak. Setelah perkawinan itu, Abdullah bin Mubarak membuat perabot dan harta yang banyak. Ia membeli sepuluh kuda yang digunakan untuk berjuang di jalan Allah Swt.

Pada suatu hari, Abdullah bermimpi bertemu seseorang yang berkata: "Apabila engkau menceraikan seorang perempuan tua karena kami, maka kami akan memberikan ganti perempuan yang perawan. Dan apabila engkau menyembelih seekor kuda karena kami, maka kami akan memberikan ganti sepuluh kuda kepadamu. Agar engkau mengetahui bahwa kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat. Dan sesungguhnya Allah Swt tidak menyia²kan pahala orang² yang berbuat baik."


إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ


"...Sesungguhnya Allah tidak menyia²kan pahala orang² yang berbuat baik." (QS. at-Taubah [9]: 120).


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS LIMA BELAS: "MENDAHUKAN AGAMA DARIPADA DUNIA, DAN PERISTIWA YANG TERJADI PADA YANG DEMIKIAN"


Diceritakan: Bahwasanya di kalangan Bani Israil terdapat seorang laki² shalih yang mempunyai istri shalihah, Allah Swt memberikan wahyu kepada Nabi pada masa itu supaya berkata kepada hamba shalih tersebut: "Aku menjadikan setengah umurmu kaya dan setengah umurmu miskin. Apabila ia memilih kaya pada waktu muda, maka kami akan membuatnya kaya pada umur muda, dan membuatnya miskin pada usia tua. Dan apabila ia memilih menjadi kaya pada umur tua, maka kami akan membuatnya kaya pada umur tua, dan membuatnya miskin pada masa muda."

Selanjutnya, nabi itu memberitahu laki² shalih itu tentang pesan tersebut. Setelah mengetahui isi pesannya, laki² shalih ini pergi menemui istrinya dan menceritakan kisahnya bersama nabi:

"Apa pendapatmu..??" Tanya suami pada istrinya.

"Engkau yang memilih," jawab sang istri.

"Menurutku, aku memilih fakir pada waktu muda, sebab aku kuasa dalam keadaan fakir dan menunaikan ibadah kepadaNya. Ketika aku tua dan aku mempunyai bekal, maka aku mampu menjalankan ketaatan kepada Tuhan," kata si suami.

"Wahai suamiku, apabila pada waktu muda kita fakir, engkau tidak mampu taat kepada Allah Swt, Sebab kita akan sibuk dengan keadaan, dan kita tidak mampu melakukan ketaatan dan memberikan sedekah. Apabila kita memilih kaya pada waktu muda, kita mampu beribadah sebab tenaga kita masih kuat," kata sang istri.

"Baik, ini pilihan kita," kata si suami.

Selanjutnya, Allah Swt memberikan wahyu kepada nabi tersebut untuk berkata kepada laki² shalih dan istrinya bahwa sekiranya kalian mendahulukan taat kepada Kami, meluangkan usaha kalian untuk beribadah kepada Kami, dan menyatukan niat kalian untuk melakukan kebaikan, maka Aku jadikan semua umur kalian dalam keadaan kaya. Oleh sebab itu, taatlah kalian berdua, jujurlah dalam setiap perbuatan kalian, supaya bagian kalian diperoleh di dunia dan akhirat. Allah Maha Kaya dan Terpuji.

📚[An-Nawadir. Hal. 96_97]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS ENAM BELAS: "KISAH YANG ANEH YANG TERJADI PADA MANUSIA"


Diceritakan: Pada zaman dahulu, ada seorang perempuan yang melahirkan anak perempuan, kemuduan ia berkata kepada pembantunya: "Carikan kami api!"

Pembantu itu pun keluar dari rumah, dan di depan pintu rumah ia bertemu dengan seorang laki² yang tidak dikenalnya.

"Tuanmu melahirkan anak laki² atau perempuan..??" tanya laki² itu.

"Ia melahirkan seorang anak perempuan," jawab si pembantu.

"Anak itu kelak akan melacur dengan seratus laki², dan akan dinikahi pembantunya, dan ia mati dengan sebab laba²," jelas laki² itu.

Dalam batin, pembantu itu berkata bahwa ia tidak mau menikah dengan perempuan yang melacur dengan seratus laki², dan ia harus membunuh bayi itu.

Setelah itu, pembantu tersebut mencari sebilah pisau untuk mewujudkan rencananya. Ia membunuh bayi perempuan tersebut dengan membelah perutnya, lalu ia lari darinya. Ia menyeberang laut dan menghilang entah ke mana.

Keluarga bayi perempuan itu datang dan amat kaget menemukan bayi mereka dalam kondisi kritis, kemudian .ereka menjahit perutnya, dan mengobatinya, dan akhirnya bayi tersebut sembuh, dan tumbuh dewasa dengan baik.

Ternyata memang benar, pada saat dewasa, ia menjadi perempuan yang menjual diri. Seluruh keluarganya mengusirnya, sehingga ia pun pergi ke salah satu pantai dan menjual diri di sana.

Setelah beberapa waktu, laki² yang dulu menjadi pembantu di keluarga pelacur tesebut datang ke pantai tersebut setelah menjadi kaya, dan ia membawa harta yang banyak. Ia berkata kepada salah satu perempuan di tempat itu: "Carikan aku perempuan tercantik di desa ini, dan aku akan menikahinya."

"Di sini terdapat perempuan sangat cantik, akan tetapi ia adalah pelacur," kata perempuan tersebut.

"Datangkan ia kepadaku!"

Kemudian perempuan itu pun mendatangi perempuan yang dimaksud (pelacur), dan berkata: "Seorang laki² kaya datang ke sini mencari perempuan yang mau dinikahi, dan aku berkata kepadanya bahwa di sini terdapat seorang perempuan dengan ciri seperti ini dan ini."

"Aku akan meninggalkan melacur ini apabila ia benar² mau denganku, aku akan menikah dengannya," kata perempuan lacur itu.

Perempuan yang menjadi perantara tersebut menyampaikan jawaban perempuan yang dimaksud. Akhirnya saudagar kaya itu mengawininya. Dan perempuan ini sangat mencintai suaminya.

Suatu hari, mereka duduk sambil bercerita banyak hal. Saudagar menceritakan kisahnya bersama seorang anak perempuan. Betapa kagetnya si istri sembari berkata: "Demi Allah, aku adalah perempuan itu!"

Lalu si istri itu memperlihatkan bekas sobekan di perutnya dan berkata: "Aku melacur dengan banyak orang, dan aku tidak tahu apakah jumlahnya sudah mencapai seratus atau lebih."

"Laki² yang bertemu denganku berkata bahwa bayi perempuan itu kelak mati sebab laba², akan tetapi kita bisa menghindari hal itu dengan membangun bangunan di padang pasir," jelas si suami.

Suatu hari, ketika mereka berdua berada di rumahnya, tiba² ada laba² di atap rumah. Si suami berkata kepada istrinya: "Aneh, ada laba². Tinggalkan aku! Aku akan membunuhnya."

"Hewan ini akan membunuhku. Demi Allah, selain aku tidak akan mampu membunuhnya," kata si istri.

Kemudian istri itu menggerak²kan laba² itu dari atap dan jatuh di lantai. Ia mendekatinya dan meletakkannya di ujung jempol kakinya. Ia menginjaknya, lalu racunnya mengalir mengenai jari² kakinya, menjalar ke tubuhnya. Tiba² tubuhnya menjadi hitam, dan ia pun meninggal dunia.


Kejadian itu berdasarkan firman Allah Swt:


أَيْنَما تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ


"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu...." (QS. an-Nisaa' [4]: 78).


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TUJUH BELAS: "PERISTIWA YANG TERJADI PADA UMMU JA'FAR BERSAMA ORANG² FAQIR"


Diceritakan: Sesungguhnya dua orang laki² buta sedang duduk di teras rumah Ummu Ja'far yang mana Ummu Ja'far terkenal dengan sifat dermawan. Dan adalah satu dari dua orang yang mempunyai keluarga itu berkata: "Ya Allah, berikanlah aku rezeki dari kemurahan-Mu yang luas."

Sementara yang satunya lagi masih perjaka dan belum mempunyai keluarga berkata: "Ya Allah, berikanlah aku rezeki dari kemurahan Ummu Ja'far."

Ummur Ja'far yang mendengar doa itu mengirimkan dua dirham kepada peminta kemurahan Allah Swt, dan mengirimkan dua potong roti dan ayam panggang yang di dalamnya terdapat sepuluh dinar yang tidak diketahuinya kepada peminta kemurahannya yang masih perjaka itu.

Akan tetapi si pemuda itu berkata kepada temannya: “Ambillah dua potong roti dan ayam ini, dan berikan aku dua dirham."

Temannya pun menerima tawaran itu.

Setelah lewat sebulan, Ummur Ja'far mengirimkan sesuatu dan berkata:

"Katakan kepada pencari kemurahan kami, tidakkah pemberian kami membuatmu kaya..??"

Setelah pesannya disampaikan, pemuda yang dimaksud berkata kepada utusan Ummu Ja'far: "Katakan kepadanya, apa yang ia berikan kepadaku..??"

Pertanyaan pemuda itu dijawab oleh Ummu Ja'far; "Sepuluh dinar."

"Tidak, demi Allah ia hanya mengirimku ayam dan dua potong roti pada setiap hari, dan aku menjual itu kepada temanku dengan dua dirham," ucap pemuda itu.

Ummu Ja'far berkata: "Orang itu benar, sebab ia meminta karunia dan kemurahan Allah Swt, Maka Allah Swt menjadikannya kaya dari rezeki yang tidak ia sangka, dan ia tidak bermaksud atas kekayaan itu. Sementara yang lain meminta kemurahan kami, maka Allah Swt menutupnya sekehendak-Nya agar orang² mengetahui bahwa faqir dan kaya semata² dari Allah Swt."

Segala puji bagi Allah Swt.

📚[An-Nawadir. Hal. 98_99]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DELAPAN BELAS: "DIAM"


Diceritakan dari Dzun Nun al-Mishri, ia berkisah:

Pada suatu hari aku melewati sebuah taman yang penuh tanaman hijau, lalu aku melihat ada seorang pemuda yang shalat di bawah pohon apel, dan aku tidak tahu kalo ia lagi shalat. Kemudian aku mengucapkan salam kepadanya, akan tetapi ia tidak menjawab, sehingga aku mengulanginya beberapa kali, tapi tetap aja tidak ada jawaban. Lalu kelihatannya ia meringkas shalatnya.

Selesai shalat, pemuda itu menulis sesuatu di tanah:

"Menahan lisan memperdagangkan kata²

la menyebabkan hina dan mengalirkan nestapa

Apabila engkau berkata, maka ucapkanlah dzikir Rabbmu

Jangan engkau lupakan, dan pujilah Dia setiap waktu"

Membaca bait syair itu, aku menangis panjang. kemudian aku pun menulis sesuatu di tanah dengan tanganku:

"Tidak ada seorang penulis pun tanpa cobaan

Padahal masa terus berlalu selama tangannya menyayat goresan

Jangan engkau tulis sesuatu dengan telapakmu

Kecuali engkau pertimbangkan di hari akhir itu memudahkanmu"

Selesai membaca tulisanku, ia berteriak keras dan mati seketika. Selanjutnya aku hendak mempersiapkan penguburannya. Tiba² sebuah suara memanggilku; “Tidak akan menguasainya kecuali malaikat."

Akhirnya aku pergi ke sebuah pohon untuk menjalankan shalat beberapa rakaat di bawahnya. Lalu aku melihat tempat aku meletakkannya. Alangkah mengejutkan, tidak ada bekas dan berita lagi tentangnya.

Maha Suci Dzat yang memberikan kehendak kepada hamba-Nya.

📚[An-Nawadir. Hal. 99]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS SEMBILAN BELAS: "BELAS KASIH DAN TAUFIQ ALLAH SWT KEPADA HAMBA"


Diceritakan dari Dzun Nun al-Misri pula, sesungguhnya ia mengisahkan:

Aku pergi ke pinggir sungai Nil untuk mencuci pakaianku. Manakala aku berdiri di sana, tiba² ada kalajengking yang sangat besar menghadap kepadaku. Maka aku pun sangat takut melihatnya. Pada ketika itu aku meminta perlindungan Allah Swt agar dijaga dari keganasannya. Kemudian ia pergi dan menyelam ke dalam air sungai.

Setelah itu, tiba² aku dikejutkan lagi oleh katak besar yang dinaiki kalajengking keluar dari air. Dan katak itu membaca tasbih di atas air yang selanjutnya mendekatiku. Aku naik di atas katak tersebut yang kemudian membawaku ke seberang. Kalajengking besar tersebut turun dan mendekat ke sebuah pohon berdahan besar serta berdaun lebat. Dan ternyata di sana ada seorang pemuda tampan tidur di bawahnya, dan pemuda itu adalah pemabuk.

"La haula walaa quwwata illa billaahi," ucapku.

Kalajengking itu datang dari tepi lain ke tepi ini untuk menyengat pemuda tersebut. Dalam hati aku berkata: "Apabila ia mendekati pemuda tersebut maka aku akan membunuhnya."

Aku berdiri dekat dengan pemuda itu. Tiba² bukan hanya kalajengking, ternyata seekor ular besar juga hendak membunuh pemuda tersebut. Maka kalajengking dan ular bertarung hingga kemenangan berada di pihak kalajengking. Berkali² kalajengking itu menyengat ular hingga mati. Kemudian kalajengking kembali ke sungai dan katak besar menunggunya menaiki punggungnya. Aku melihat Hewan itu dari belakang, katak itu berenang ke tempat semula.

Setelah itu, aku menghampiri pemuda dan mendendangkan sebuah syair:

Wahai orang tidur yang dijaga Allah Maha Agung

Dari segala kejelekan yang menzhalimi

Bagaimana matamu terpejam dari Raja Agung

Dia datang kepadamu dengan berbagai nikmat haqiqi

Selanjutnya, pemuda tersebut bangun dari tidurnya karena mendengar kata²ku. Lalu aku menceritakan kepadanya peristiwa yang baru saja aku alami. Maka ia pun bertaubat dan melepaskan pakaian kesenangan. Sampai meninggal dunia, ia menjadi seorang shalih.

Semoga rahmat Allah Swt diberikan kepadanya.

📚[An-Nawadir. Hal. 99_100]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH: "PEMBALASAN DENDAM"


Diceritakan dari Wahab bin Munabbih, ia mengisahkan: Di negeri Bani Israil terdapat seorang hamba yang taat menyembah Allah Swt, di tempatnya yang berada di samping sungai. Di tempat itu terdapat seseorang yang berprofesi sebagai tukang cuci.

Suatu hari, seorang penunggang kuda yang memakai sabuk (ikat pinggang) penyimpan uang datang. Lalu ia melepaskan pakaian dan sabuknya untuk mandi di sungai. Setelah mandi ia memakai kembali pakaiannya, tetapi ia lupa dengan sabuknya. Lantas ia pergi begitu saja.

Beberapa saat setelah itu, seorang nelayan datang mencari ikan dengan jala. Di tengah menangkap ikan, ia melihat sebuah sabuk. Kemudian ia mengambilnya dan membawanya pulang.

Tidak lama kemudian, penunggang kuda mencari sabuknya, akan tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia bertanya kepada tukang cuci yang sedang berada di pinggir sungai: "Aku lupa dengan sabukku di sini."

"Aku tidak melihatnya sama sekali," jawab tukang cuci.

Kemudian penunggang kuda itu menghunuskan pedang kepada tukang cuci itu, dan membunuhnya.

Tatkala hamba shalih melihat itu, hampir saja ia terkena fitnah, dan berkata: "Tuhanku, Junjunganku, nelayan itulah yang mengambil sabuk. Akan tetapi tukang cuci itu malah yang dibunuh."

Tatkala malam tiba, hamba shalih tidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi:

"Wahai hamba shalih, jangan terkena fitnah, dan jangan masuk ke dalam ilmu Tuhanmu. Ketahuilah bahwa penunggang kuda itu membunuh ayah nelayan dan mengambil hartanya, maka sabuk tersebut menjadi harta ayahnya. Dan catatan tukang cuci itu (ayah nelayan) penuh dengan kebaikan, kecuali hanya satu kesalahan. Sementara catatan penunggang kuda dipenuhi dengan kejelekan, dan hanya mempunyai satu kebaikan. Ketika penunggang kuda membunuh tukang cuci, maka terhapuslah kejelekannya, dan pada akhirnya semua kebaikan penunggang kuda terhapus. Tuhanmu melakukan sesuatu yang dikehendaki dan menghukumi sesuatu yang dikehendaki pula."


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH SATU: "SABAR MENGHADAPI UJIAN"


Diceritakan: Bahwasanya seorang sufi yang berhati lembut dan sabar mempunyai teman yang dipenjarakan oleh pemimpin. Kemudian ia mengirimkan surat bagi temannya itu:

"Bagaimana kabarmu di penjara..??" tanya sang sufi.

Temannya membalas surat sang sufi:

"Aku bersyukur kepada Allah Swt."

Selanjutnya, para pengawal datang ke penjara tersebut membawa seorang Majusi yang kesakitan perutnya karena siksaan pengawal. Mereka mengikat Majusi itu dengan rantai besi bersama teman sufi. Sehingga ketika si Majusi hendak berdiri membuang hajat, teman sufi ikut bersama dan berdiri di sampingnya sampai selesai. Dan teman sufi tersebut merasa tidak nyaman dengan bau kencing dan gerakan²nya.

Si sufi mengetahui hal tersebut dan mengirimkan sepucuk surat menanyakan kabarnya di sana. Akan tetapi teman si sufi dalam keadaan sempit itu menjawab suratnya: "Aku bersyukur kepada Allah Swt."

Surat itu dibalas lagi oleh si sufi, "Dari mana engkau bersyukur kepada Allah Swt..?? Cobaan mana yang lebih berat daripada yang yang engkau alami..??"

Teman si sufi membalas suratnya, "Seandainya pemimpin itu mengambil borgol dari perut Majusi dan menalikannya dengan perutku, maka itu lebih berat daripada keadaanku sekarang. Wahai saudaraku, sebenarnya aku berhak mendapatkan hukuman lebih berat daripada ini. Apabila Tuhan memaafkan aku dengan hukuman ini, bersyukur adalah hal yang wajib aku lakukan. Aku takut apabila satu obor api dari neraka akan menimpaku. Apabila aku diampuni dengan obor api ini, maka tidakkah aku bersyukur kepada-Nya..??"

Wallaahu a'lam.


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH DUA: "RIDHA TERHADAP KEPUTUSAN ALLAH SWT"


Diceritakan: Bahwasanya Nabi Musa ﷺ berkata: "Wahai Tuhanku, perlihatkanlah padaku seorang wali dari wali²-Mu."

Tiba² sebuah suara menyeru: "Wahai Musa, naiklah ke atas gunung itu, lalu turunlah ke lembah maka engkau akan melihat apa yang engkau minta."

Nabi Musa melakukan yang diperintahkan dalam suara tersebut. Di tempat itu ia melihat padang luas, dan di sana ada sebuah rumah, lalu ia masuk ke sana. Tiba² ia melihat seseorang yang berpenyakit lepra dengan beberapa bagian tubuh yang lepas.

"Assalaamu'alaika wahai kekasih Allah," ucap Nabi Musa.

"Wa'alaikassalam wahai kaliimullaah," jawabnya.

"Dari mana engkau mengenal aku..??" tanya Nabi Musa.

"Tidak ada seorang pun yang pernah mengunjungi aku dalam keadaan seperti ini, Kemudian aku meminta Allah Swt semenjak beberapa malam agar aku dikumpulkan bersama engkau, dan Allah Swt mengabulkan doaku," jelas wali itu.

"Wahai wali, siapa yang melayanimu..??, dan dari mana makanan dan minumanmu..??" tanya Nabi Musa.

"Aku mempunyai seorang anak yang pergi ke lembah ini setiap hari, dan ia yang memetikkan beberapa buah yang diberikan kepadaku, lalu aku memakan dan berbuka dengannya," kata wali.

"Aku ingin melihat anakmu, boleh..??" tanya Nabi Musa.

Selanjutnya, si wali memberi tahu keberadaan anaknya, sekaligus memberi tahu jalan menuju tempat itu.

Nabi Musa kagum begitu melihat anak itu, ia amat tampan layaknya rembulan purnama.

"Semoga Allah Swt memberkahi sebaik² makhluk," puji Nabi Musa.

Pada saat itu, tiba² seekor hewan buas mengambil anak tersebut. Nabi Musa pun marah, dan berkata: "Wahai Tuhanku dan Junjunganku, seorang wali dilemparkan dalam keadaan seperti itu, dan ia tidak mempunyai pembantu."

Setelah itu, Allah Swt memberikan wahyu kepada Nabi Musa agar kembali kepada ayah anak tersebut, dan melihat betapa ia sabar dan ridha.

Nabi Musa menemui ayah anak tersebut serta menceritakan perihal yang dialami anaknya. Orang tua anak tersebut tersenyum bahagia dan senang, sembari mengangkat kepala ke langit: "Tuhanku, Junjunganku! Engkau telah memberikan aku seorang anak. Aku menyangka ia akan hidup sesudahku. Sekiranya Engkau membebaskan aku dari anakku, maka ambillah aku pada saat sujud."

Pada ketika itu, Wali itu pun bersujud. Nabi Musa menggerak²nya, akan tetapi ia sudah meninggal dunia.

"Tuhanku, Junjunganku! Kekasih-Mu telah dilemparkan di tempat ini, dan anaknya di lembah itu."

Kemudian Jibril turun kepada keduanya, memandikan dan menguburkannya. Dan akhirnya, Nabi Musa ﷺ pergi dari tempat tersebut.

📚[An-Nawadir. Hal. 101_102]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH TIGA: "TAWAKKAL DAN SABAR"


Diceritakan: Bahwasanya Abu Hamzah al-Khurasani berkisah:

Pada suatu tahun, aku menunaikan ibadah haji. Ketika berjalan di sebuah jalan, aku jatuh di sebuah sumur. Lalu tergerak hatiku untuk meminta pertolongan.

"Tidak, demi Allah, aku tidak meminta pertolongan!" ucapku.

Belum selesai kalimat itu aku ucapkan, dua orang laki² lewat di samping sumur. Salah satu dari mereka berkata: "Lihatlah, mari kita tutup saja mulut sumur ini, agar tidak ada orang yang jatuh ke dalamnya."

Kemudian mereka mengambil benda bulat dan menutupkannya pada mulut sumur. Saat itu, aku hendak berteriak, akan tetapi bathinku berkata: "Aku berteriak kepada orang yang dekat denganku saja dan diam."

Beberapa waktu sesudah itu, mulut sumur tersebut terbuka, dan seseorang menurunkan kakinya seolah² ia berkata kepadaku agar aku memegang kakinya. Aku memegang kakinya, sementara ia mengeluarkan aku. Betapa kaget, ternyata ia adalah hewan buas. Lalu ia lari begitu saja.

Selang beberapa waktu, sebuah suara memanggil: "Wahai Abu Hamzah, bukankah ini lebih baik..?? Aku menyelamatkanmu dari kematian dengan hewan yang mematikan."

📚[An-Nawadir. Hal. 102]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH EMPAT: "KELEMBUTAN HATI PEMIMPIN BERSAMA PENGIKUT KEBENARAN"


Diceritakan: Bahwasanya orang² tertimpa musibah kelaparan pada masa Hisyam bin Abdul Malik. Maka orang² melapor kepada Hisyam bin Malik bersama dengan Darawis bin Habib al-Ajali yang memakai jubah dari kain wol berdesain kerudung yang dipakai oleh orang² yang keras suaranya.

Ketika Hisyam bin Abdul Malik melihat Darawis bin Habib al- Ajali, ia melihat kepada ajudannya dengan marah: "Apakah semua orang yang hendak masuk ke dalam istana dapat masuk..??"

Darawis bin Habib al-Ajali mengetahui bahwa yang dimaksud dari ucapan Hisyam bin Abdul Malik adalah dirinya sehingga ia angkat bicara: "Wahai Amirul Mukminin, apakah kehadiranku membuatmu sepi..?? Padahal merupakan suatu kehormatan bagiku bisa menghadiri majelismu. Ketika engkau melihat orang² berdatangan karena suatu masalah yang mereka alami, maka aku bersama mereka. Apabila engkau memberikan aku izin berbicara, aku akan berbicara."

"Demi Tuhan ayahmu, bicaralah! Aku tidak mengetahui pemimpin kaum tersebut kecuali engkau." kata Hisyam bin Abdul Malik.

"Wahai Amirul Mukminin, selama tiga tahun berturut² kami mengalami krisis pangan. Tahun pertama, gajih kami berkurang. Tahun kedua, gajih itu memakan daging. dan tahun ketiga, ia memakan tulang. Demi Allah, pada kalian terdapat harta. Apabila harta itu milik-Nya, maka jadilah sebagai penyambung untuk hamba²-Nya. Namun apabila harta itu milik mereka, maka mengapa engkau menyimpannya dari kami? Dan apabila harta itu milik kalian, maka sedekahkanlah kepada kami. Sesungguhnya Allah Swt membalas orang² yang bersedekah, dan tidak menyia²kan pahala orang² yang berbuat kebaikan," ungkap Darawis bin Habib al-Ajali.

"Demi Tuhan ayahmu semata, engkau tidak akan meninggallkan salah satu dari tiga hal tersebut kepada kami," timpal Hisyam bin Abdul Malik.

Selanjutnya, Hisyam bin Abdul Malik memberikan seratus ribu dinar kepada orang² yang mengadu tersebut. Sementara Darawis bin Habib al-Ajali diberi seratus ribu dirham.

"Apakah semua orang mendapatkan bagian seperti ini..??" tanva Darawis bin Habib al-Ajali.

"Tidak, simpanan di Baitul Mal tidak akan cukup," jawab Hisyam bin Abdul Malik.

"Kami tidak membutuhkan harta yang hanya akan menghinakan engkau, Amirul Mukminin."

Setelah itu, Darawis bin Habib al-Ajali mengajak kabilahnya pergi dari istana. Namun sebelum pergi, Hisyam bin Abdul Malik memberikan seratus ribu dirham tersebut kepadanya. Ketika uang tersebut sampai di tangannya, ia memberikan sembilan puluh ribu dirham kepada sembilan kabilah. Sementara sepuluh ribu dirham untuk dirinya dan orang² kampung. Tatkala itu disampaikan kepada Hisyam bin Abdul Malik, “Alangkah baiknya, sesungguhnya perbuatan baik akan menciptakan tabiat mulia."

📚[An-Nawadir. Hal. 102_103]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH LIMA: "PERISTIWA YANG DIALAMA UMMU MU'AWIYAH"


Diceritakan: Hindun binti 'Atabah adalah seorang perempuan berwajah cantik jelita dan kaya harta. Ia mempunyai banyak hewan, jumlahnya mencapai seribu ekor kuda. Selain itu, ia juga mempunyai seribu budak. Ia mempunyai kereta dari kayu yang dibalut dengan intan dan permata. Suaminya adalah Al-Fakih bin al-Mughirah, salah seorang pemuda Quraisy. Al-Fakih bin al-Mughirah mempunyai kegemaran bertamu, berkunjung dari rumah ke rumah tanpa ada penghalang sama sekali.

Suatu hari, al-Fakih bin al-Mughirah pergi untuk beberapa keperluan. Salah seorang temannya datang ke rumah hendak menemuinya. Namun tamu tersebut hanya melihat Hindun. Tamu itu kembali dengan malu. Lalu ia mencari dan menghadap pun kepada Al-Fakih bin al-Mughirah yang sedang keluar rumah, meskipun tidak menemuinya. Setelah itu Al-Fakih bin al-Mughirah datang melihat Hindun (istrinya). Namun Al-Fakih al-Mughirah sepertinya meragukan sesuatu hingga terjadi sedikit masalah dengan istrinya.

"Kembalilah kepada orang tuamu," ucap Al-Fakih bin al-Mughirah.

Orang² banyak membicarakan masalah Hindun, dan menyebar ke mana² sampai kepada ayahnya ('Atabah). 'Atabah pun memanggil Hindun untuk menanyakan penyebabnya.

"Orang² membincangkan kehormatanmu. Jujurlah kepadaku, beri tahu aku informasi sebenarnya. Apabila yang dikatakan orang² itu benar, maka aku akan mengirim orang untuk membunuh Al-Fakih dengan rahasia. Apabila yang mereka katakan ternyata salah, aku akan mengadu kepada sebagian dukun Yaman agar menjelaskan bersihnya engkau, dan kami tidak akan melakukan apa² kepadanya," kata 'Atabah.

Mendengar ucapan ayahnya, Hindun bersumpah dengan ikrar yang cukup menguatkan bahwa ia bebas dari tuduhan orang².

Seketika, 'Atabah mengutus seseorang menemui Al-Fakih bin al Mughirah untuk bertemu dalam sebuah sidang di depan dukun yang sudah ditentukan pada suatu waktu.

"Engkau telah menuduh anakku melakukan zina. Maka engkau harus diadili," begitu pesan yang dititipkan kepada seorang utusan.

Al-Fakih bin al-Mughirah keluar membawa orang dari Bani Abdi ad-Dar, sementara Hindun keluar dengan membawa massa perempuan dari Bani Umayyah. Setelah mereka keluar dari desa masing² dan mendekati pertapaan dukun, 'Atabah melihat putrinya berwajah pucat, gemetar, dan bingung dengan masalah yang dihadapinya.

"Mengapa engkau takut, wahai anakku..??" tanya 'Atabah.

"Demi Allah, aku tidak menyukai perkara ini sampai begini. Aku hanyalah manusia biasa, yang terkadang benar dan terkadang salah. Aku tidak mempercayai ia menuduhku zina tanpa dasar. Maka, hal itu adalah aib selama²nya bagi kami," ungkan Hindun.

"Kita tertimpa suatu musibah, dan akan mengujikan hal itu kepada si dukun. Apabila ia memberi tahu kita, maka kita memperhitungkan ilmunya dan memintanya berfatwa. Namun apabila tidak, maka kita akan meninggalkannya," kata 'Atabah.

Selanjutnya mereka mengambil biji gandum dan memasukkannya pada lubang kemaluan kuda. Sesampainya di tempat si dukun, mereka menyapa dan memuliakannya.

"Kami datang membawa sesuatu dan mengadukan suatu masalah kepadamu. Bagaimana pendapatmu..??" sapa mereka.

"Sebuah biji terdapat di dalam lubang kemaluan," jawab si dukun.

"Kami menginginkan yang lebih lengkap lagi, dari sekadar informasi ini!" kata orang².

"Sebuah biji gandum di dalam lubang kemaluan kuda," jelas si dukun.

"Engkau benar! Sekarang, bagaimana pendapatmu tentang perempuan² itu..??" tanya orang².

Selanjutnya, si dukun mendekat kepada semua perempuan hadir dalam pertemuan tersebut. Masing² ditemuinya dengan komentar satu per satu. Dan pada seorang perempuan yang tidak lain adalah Hindun, si dukun menepuk pundaknya.

"Demi Allah, engkau sama sekali tidak berzina. Engkau bebas dari tuduhan orang². Engkau akan melahirkan seorang raja bernama Muawiyah."

Al-Fakih bin al-Mughirah (suami Hindun) yang mendengar ucapan tersebut, langsung berubah pandangan kepada istrinya. Dalam keterkejutan, ia pergi kepada Hindun untuk menemui dan mencium kepalanya. Akan tetapi Hindun berteriak dan berkata:

"Jauhi aku! Demi Allah, aku akan berusaha sendiri untuk raja dalam perutku ini tanpa engkau."

Demikian penolakan terus dilakukan Hindun atas permintaan damai suaminya hingga Al-Fakih bin al-Mughirah menceraikan istrinya tersebut.

Setelah kata² si dukun tentang akan lahirnya seorang raja dari rahim Hindun menyebar, orang² berbalik arah menyukai Hindun. Sampai² para pembesar dan pejabat turut merasakan senang. Akhirnya salah seorang dari pembesar bernama Abu Sufyan melamarnya, dan menyerahkan harta yang sangat banyak. Hindun ridha atas lamaran tersebut dan berlanjut ke pernikahan. Ternyata benar, Hindun melahirkan seorang anak bernama Muawiyah yang kemudian menjadi seorang raja yang menguasai timur dan barat.

Wallaahu a'lam.

📚[An-Nawadir. Hal. 103_104]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH ENAM: "SESUATU YANG TIDAK DISENGAJA"


Diceritakan dari al-Fadl bin ar-Rabi', ia bercerita:

Pada suatu hari Harun ar-Rasyid berkata kepadaku: "Carikan aku tukang cantuk yang amat pendiam, lebih tenang daripada batu".

"Aku mempunyai seorang anak yang amat pendiam," ucap al-Fadl bin ar-Rabi'

"Bawa dia kemari!" Kata Harun ar-Rasyid.

Sebelum mengirimnya, aku menguatkan kepada anakku agar diam dan tidak berkata sama sekali kepada khalifah serta mempersiapkannya dengan baik.

Selang beberapa waktu setelah anakku di sana, aku menemui Harun ar-Rasyid. Aku mengetahui dirinya bermuka masam dan agak marah. "Wahai Fadl, ada sedikit masalah. Kita akan melihatnya setelah ini! Aku tidak menginginkannya," ucap Harun ar-Rasyid kepadaku.

Lantas aku meminta waktu sebentar di tempat khusus untuk bertemu dengan anakku. Aku mengorek informasi tentang pertemuannya dengan khalifah.

"Ketika ia menunjukkan bagian yang akan dicantuk, aku berkata kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau mengutamakan Muhammad daripada Al-Makmun..?? Padahal al- Makmun lebih tua darinya." Ia menjawab: "Aku akan menjawab setelah pekerjaanmu selesai. Setelah beberapa saat, aku kembali bertanya kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, aku bertanya sesuatu yang lain." la menimpal, 'Apa itu..?? Aku berkata: "Mengapa engkau membunuh Ja'far bin Yahya..??" la menjawab: "Aku akan memberi tahu kamu setelah pekerjaanmu ini selesai. Aku bertanya lagi kepadanya: "Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau memilih kebebasan daripada Baghdad..?? Padahal Baghdad lebih baik daripadanya." Khalifah menjawab: Jawabanku setelah engkau selesai dari pekerjaan ini!:" Setelah itu, khalifah memanggil pembantunya dengan senang dan berkata: "Minuman dingin hanya akan membunuhnya. Sebab ia bertanya kepadaku tiga hal yang seandainya Al-Mansur bertanya kepadaku dengan pertanyaan itu, aku tidak akan menjawabnya."

Begitu keterangan anakku. Setelah penjelasan ini, aku duduk. Beberapa saat kemudian, Abu Dilamah bertamu kepada khalifah dalam keadaan menangis. Sebenarnya, Abu Dilamah telah bersekongkol dengan Ummu Dilamah bahwa ketika masuk ke dalam istana, Abu Dilamah akan menyampaikan kabar kematian. Dan Ummu Dilamah sedang pergi ke Zabidah yang juga menyampaikan kabar kematian kepadanya. Melihat situasi ini, Harun berkata kepada Abu Dilamah: "Apa yang menimpamu..??"

Abu Dilamah menjawab dengan gubahan syair:

Kami seperti sepasang burung Qattha nun jauh

Yang aman dalam suatu kehidupan tenteram dan senang

Kami menyendiri karena keraguan zaman akan mengubah

Dan aku tidak melihat suatu pun yang lebih buas daripada kesendirian

la mengucapkan itu dengan ratapan dan jeritan. "Wahai Amirul Mukminin, Ummu Dilamah telah mati. Sementara aku membutuhkan dana untuk merawat jenazahnya," ucap Abu Dilamah.

Harun ar-Rasyid yang mendengar ratapan menyedihkan tersebut memberikan dana yang dibutuhkan.

Sementara di tempat lain, Ummu Dilamah dengan tangisan sedih bertamu kepada Zabidah.

"Ada apa..??" tanya Zabidah.

"Abu Dilamah telah melewati jalannya. Ia meninggal dunia." jawab Ummu Dilamah.

Zabidah pun mengetahui maksud kedatangan Ummu Dilamah. Maka ia pergi mengambil beberapa dana untuk perawatan jenazah Abu Dilamah.

Selanjutnya, Khalifah Harun ar-Rasyid pergi ke tempat Zabidah yang masih marah, sebab pertanyaan tukang cantuk dan kematian Ummu Dilamah.

"Aku melihatmu sedih. Mengapa..??" tanya Zabidah kepada Harun ar-Rasyid.

Harun ar-Rasyid pun menceritakan masalahnya. Zabidah segera menangkap peristiwa yang dialami mereka.

"Sekarang, Ummu Dilamah ada di tempatku meminta dana untuk perawatan jenazah Abu Dilamah," ucap Zabidah

"Dan sekarang, Abu Dilamah ada di tempatku meminta dana untuk perawatan jenazah Ummu Dilamah," kata Harun ar-Rasvid dengan senyum.

Selanjutnya, Harun ar-Rasyid menemuiku dengan tertawa terbahak². Aku kaget, saat keluar dari istana, ia sedih: dan ketika masuk istana, ia senang. Aku bertanya kepadanya. Khalifah menceritakan peristiwa yang dialaminya bersama Zabidah. Saat itu aku meminta agar tukang cantuk yang tidak lain anakku agar ditolong dan dibebaskan karena pertanyaan² yang agak menyinggung tersebut. Khalifah menerima dan membebaskannya.

Selanjutnya, khalifah mendatangkan Abu Dilamah untuk mencari tahu alasan melakukan rekayasa tersebut.

"Apa yang menyebabkan engkau melakukan ini

.??" tanya Harun ar-Rasyid.

"Wahai Amirul Mukminin, janganlah mengejek begitu! Ini kami lakukan agar tidak ada anggapan bahwa engkau hanya memberikan sesuatu kepada orang semata dengan rekayasa," jelas Abu Dilamah.

Mereka pun tertawa melihat kecerdasan rekayasa dua orang itu.

Wallaahu a'lam.

📚[An-Nawadir. Hal. 105_106]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH TUJUH: "MENGABARKAN AL-MUTAMANNAH BINTI AL-HAITSAM"


Al-Ashma'i bercerita:

Pada suatu waktu aku pergi ke suatu tempat di Madinah Munawwarah. Maka beberapa orang suku Badui yang fakir dari berbagai daerah datang kepada kami. Di antara orang² itu, aku dikejutkan oleh seorang perempuan muda berwajah bersih berada di tengah kerumunan laki². Ia berkata dengan kata² lembut sekali, lebih ringan daripada angin, dan lebih kecil daripada debu.

Aku memperhatikannya yang bermata indah dan berwajah cantik, sampai² aku memejamkan kedua mataku karena hampir tak kuasa melihat kecantikannya. Aku mengucapkan ta'awwudz (permintaan perlindungan Allah Swt dari godaan setan).

"Wahai perempuan, apakah dihalalkan engkau pergi di antara orang² di tempat ini dengan wajahmu yang amat cantik itu..??" tanyaku kepada perempuan cantik tersebut.

Ia menangis tersedu setelah mendengar kata²ku sambil mendendangkan sebuah syair:

Aku tidak menampakkan wajah hingga pudarlah rekayasaku

Aku menampakkannya kepada Dia, Yang Maha Luhur dan Mulia

Tersibaknya wajah adalah suatu keagungan

Hanyalah masa yang menjadi hakim dan menetapkannya kezhaliman

Aku menjaga dan menutupinya sehingga apabila

Hanya tersisa bagiku satu sanad dan telah mati Al-Haitsam

Aku menampakkannya terpaksa dari kain tipis ini

Sementara Allah menjadi saksi dan mengetahui

Di suatu tempat, zaman telah melepaskan malu

Katakan, berkawanlah dengannya, meskipun dirham begitu asing

Di tanah Hijaz aku hanyalah seorang diri

Sementara Abu Rabi'ah pergi menjauh

Aku mendekat dan berusaha membuatnya senang.

"Wahai perempuan, siapa namamu..??" tanyaku.

"Al-Mutamannah binti al-Haitsam. Ayahku terbunuh dalam suatu peperangan, sehingga aku seperti ini di antara orang²," jawabnya.

Aku meninggalkannya. Kemudian dalam sebuah pertemuan antara beberapa rombongan, aku menceritakan kisahku kepada Abu Kultsum Thauq bin Malik bin Thauq.

Satu tahun kemudian, Abu Kultsum memintaku datang ke rumahnya. Aku tinggal di sana selama beberapa hari. suatu hari seorang pelayan yang bersinar wajahnya datang kepadaku. Ia membawa beberapa setumpuk pakaian dan satu wadah, lalu meletakkannya di depanku. Aku tidak mengerti apa maksudnya.

Selanjutnya Abu Kultsum menemuiku.

"Wahai Abu al-Abbas, ini adalah hakmu, sebab pemberitahuanmu kepadaku tentang al-Mutamannah binti al-Haitsam. Ini adalah hadiah darinya. Allah Swt melembutkan hatinya karena keberkahanmu. Ketika engkau memberi tahu kami tentang dirinya waktu itu, engkau membuka kabar tentang dirinya kepada orang² untuk menikahinya. Aku menceritakan tentang dirimu kepadanya. Ia pun menjadi istriku. Aku berterima kasih kepadamu atas itu semua, dan aku sangat bersyukur beristri dengannya, ucap Abu Kultsum.

📚[An-Nawadir. Hal. 106_107]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH DELAPAN: "KECERDASAN DAN KEFASIHAN"


Diceritakan: Seorang pemuda Arab cerdas bernama Syannun bersumpah tidak akan menikah kecuali dengan perempuan yang sesuai dengannya. Maka ia pun berkunjung ke berbagai daerah dan kabilah untuk menemukan calon pendampingnya tersebut. Dalam perjalanan, ia ditemani oleh seorang laki². Tatkala perjalanan telah mencapai jarak tempuh yang jauh, Syannun berkata kepada kawannya: "Engkau menggendong aku atau aku menggendongmu..??"

Mendengar pertanyaan seperti itu, temannya berkata: "Wahai si bodoh, apakah mungkin seorang pengendara naik di atas pengendara..??

Syannun pun diam, lalu mereka berdua mendatangi sebatang pohon yang telah berbuah matang.

"Bagaimana pendapatmu tentang pohon ini, makan atau tidak..??" tanya Syannun.

"Wahai si bodoh, tidakkah engkau melihat buahnya masih berada di atas dahan," ungkap kawannya.

Syannun hanya terdiam saja mendengar jawaban kawannya.

Beberapa saat kemudian, mereka bertemu dengan jenazah.

"Apakah engkau mengetahui, pemilik jenazah ini hidup atau mati..??" tanya Syannun.

"Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih bodoh dari kamu. Engkau melihat ia diusung ke kuburan, apakah ia hidup..??" ucap kawan Syannun.

Ketika tujuan mereka terpenuhi, si kawan itu kembali ke rumah. Ia mempunyai seorang putri bernama Thabaqah. la bercerita kepada anaknya tentang kisah Syannun.

Setelah cerita tersebut selesai diungkapkan, putrinya berkata:

"Apa yang dikatakan itu benar, Ayah. Hanya saja engkau tidak memahami apa yang ia pahami. Maksud dari kata²; "Engkau menggendong aku atau aku yang akan menggendongmu" adalah: apakah engkau akan bercerita kepadaku atau aku akan bercerita kepadamu hingga sampai tujuan. Sedangkan kata² tentang tanaman "makan atau tidak" maksudnya adalah: apakah pemiliknya menawarkan harga tinggi atau tidak. Dan kata² tentang "jenazah" maksudnya adalah: apakah jenazah mempunyai amal yang akan disebut² orang atau tidak."

Suatu saat, Ayah Thabaqah berkunjung ke rumah Syannun, ia bercerita tentang putrinya dan penjelasannya tentang kata² Syannun. Mendengar penjelasan itu, Syannun tertarik dengan putri kawannya tersebut.

Syannun melamar dan menikahinya. Setelah pernikahan, Syannun pulang ke rumah, dan tenarlah tentang kecerdasan mereka berdua.

"Syannun dan Thabaqah adalah pasangan yang sesuai dan serasi. Mereka sekufu," ucap banyak orang.

Wallaahu a'lam.

📚[An-Nawadir. Hal. 107]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS DUA PULUH SEMBILAN: "BERLINDUNG KEPADA ALLAH SWT"


Diceritakan dari sebagian orang: pada zaman dahulu, terdapat seorang lelaki yang menjual budak perempuannya. Akan tetapi ia menyesal setelahnya. Namun ia juga malu dengan orang² apabila penyesalannya diketahui oleh mereka.

Akhirnya ia menulis sesuatu di telapak tangannya dan berdoa:

"Wahai Dzat yang mengabulkan doa, Engkau mengetahui yang aku kehendaki."

Dalam doa itu, ia sama sekali tidak menyebutkan hajatnya. Ia terus mengangkat tangannya menengadah ke langit.

Tatkala subuh tiba, ia mendengar seseorang mengetuk pintu.

"Siapa di luar..??" Tanyanya.

"Aku adalah pembeli budakmu. Aku datang kepadamu untuk mengembalikan budakmu," jawab si pengetuk pintu.

Ia sangat senang karena yang dipanjatkan dalam doanya terkabul. Kemudian ia mengambil budaknya dan berkata: "Tunggu sebentar, aku akan membayarmu."

"Aku tidak menginginkan bayaran darimu, dan sesungguhnya aku mendapatkan pengganti yang lebih baik dari bayaran itu, sebab semalam aku bermimpi bahwa ada seseorang berkata kepadaku: "Wahai engkau, sesungguhnya penjual budak adalah salah seorang kekasih Allah Swt. Saat ini hatinya gelisah karena telah menjual budak tersebut. Apabila engkau mengembalikan budak itu kepadanya tanpa bayaran, Aku akan memasukkan engkau ke surga. Aku akan memberikan seorang bidadari sebagai penggantinya. Begitu kata² dalam mimpiku. Maka aku mengutamakan pahala daripada bayaran. Aku tidak akan mengambil bayaran itu," kata pembeli budak.

Setelah itu pembeli budak itu pun pulang ke rumah.

📚[An-Nawadir. Hal. 108]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH: "TIDAK ADA GUNANYA LARI DARI KEMATIAN"


Diceritakan: Pada masa² awal, seorang raja suatu kerajaan didatangi oleh malaikat maut untuk mencabut ruhnya.

"Siapa kamu..??" tanya raja.

"Aku adalah malaikat maut, aku datang untuk mencabut ruhmu." jawab malaikat maut.

"Aku meminta kepadamu agar menundanya selama tujuh tahun. Aku akan mempersiapkannya," pinta raja.

Kemudian Allah Swt menurunkan wahyu: "Katakan kepadanya, aku menunda kematianmu."

Malaikat mengatakan itu kepada raja, dan pergi dari hadapan sang penguasa tersebut. Setelah peristiwa tersebut, raja memerintahkan anak buahnya untuk membuat benteng kuat, di belakangnya digalikan tujuh parit, masing² didirikan penghalang terbuat dari batu. Lalu sebuah pintu terbuat dari besi dan timah dibuat pada benteng tersebut. Lebih dari itu, pada benteng tersebut juga ditumpuk tanah dalam ukuran yang sangat besar untuk menjaganya dari kematian.

Raja itu berkata pada para penjaga gerbang: "Jangan engkau biarkan seorang pun masuk menemuiku, selamanya."

Ketika masa penantian kematian itu datang, malaikat pencabut nyawa datang kepada raja.

Raja kaget melihat malaikat maut dapat masuk ke istananya.

"Dari mana engkau datang dan dari mana engkau masuk..?? Lalu siapa yang memasukkanmu..??" tanya raja.

"Aku disuruh masuk oleh pemilik istana ini." jawab malaikat.

Raja pun sangat kecewa, dan memanggil para penjaga gerbang.

"Mengapa kalian membiarkan orang ini sehingga ia dapat masuk ke dalam istanaku..??" bentak raja.

Namun mereka tidak mengetahui sama sekali orang itu. Mereka bersumpah tidak melihatnya dan tidak melihat seorang pun yang dilihatnya. Pintu itu terkunci, sedangkan kuncinya dijaga ketat.

"Pemilik istana tidak membutuhkan tembok penghalang. Utusan²Nya tidak dapat dihalangi hanya dengan tembok, sekat, dan parit," ujar malaikat.

Mendengar ucapan itu, raja berkata: "Lantas apa maksudmu datang kemari..??"

"Aku akan mencabut ruhmu," jawab malaikat.

"Apakah itu harus..??"

"Ya!"

"Ke mana aku pergi jika engkau telah mencabut ruhku..??"

"Ke rumah yang engkau bangun dan ke tikar yang engkau gelar untukmu sendiri."

"Apakah aku membangun suatu rumah untuk diriku sendiri..??"

"Benar!"

"Di mana rumah itu..??"

"Di neraka, yang mengelupas kulit orang yang mengingkari serta berpaling dari tuntunan agama, dan mengumpulkan harta semata."

Selanjutnya, malaikat mencabut nyawa raja dan pergi dari istana.

📚[An-Nawadir. Hal. 108_109]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH SATU: "TIDAK ADA KEMUNGKINAN BISA SELAMAT DARI KEMATIAN"


Diceritakan dari Wahab bin Munabbih:

Sesungguhnya Allah Swt menurunkan wahyu kepada Ibrahim ﷺ agar mencari bekal untuk sebuah perjalanan, dan ia akan melihat suatu keajaiban. Ibrahim pun mencari bekal dan melakukan perjalanan hingga ia sampai di sebuah pantai. Ketika sampai disana, tiba² ia bertemu seorang pemuda berkulit hitam sedang menggembala kambing.

"Wahai pemuda, apakah engkau mempunyai air atau susu..??" tanya Ibrahim.

"Ya, aku punya dua²nya. Terserah engkau, aku akan memberikan itu kepadamu," jawab si pemuda.

"Berikan aku satu teguk air" pinta Ibrahim.

Lantas orang itu membawa tongkat dan pergi dari hadapan Ibrahim menuju sebuah batu. kemudian ia berkata: "Aku menyengaja kepadamu wahai batu, dengan kebenaran kekasih ar-Rahman, kecuali engkau mengeluarkan air untukku."

Si pemuda itu memukul batu tersebut dengan tongkatnya, lalu keluarlah air dari batu itu dengan kuasa Allah Swt. Ia membawakan air itu kepada Ibrahim. Kemudian Ibrahim ﷺ meminumnya. Dengan penuh keheranan, Ibrahim memandang si pemuda itu.

"Apakah engkau terkejut dengan peristiwa ini..??" tanya si pemuda.

"Bagaimana mungkin aku tidak terkejut. Aku belum pernah melihat sebelumnya," jawab Ibrahim.

"Aku akan memberi tahu engkau sesuatu yang lebih mengagumkan daripada ini, yakni: telah sampai kabar kepadaku bahwa Allah Swt mengambil seorang kekasih di antara para nabi. Dan sesungguhnya aku tidak meminta sesuatu pun kepada Allah Swt dengan kebenaran nabi tersebut kecuali Dia mengabulkannya," jelas pemuda itu.

"Wahai pemuda, akulah kekasih itu!" terang Ibrahim.

Si pemuda berkata:

"Engkau kekasih itu..??"

"Benar!" jawab Ibrahim.

Pemuda tersebut menarik napas panjang dan meninggal dunia di tempat itu juga. Lalu sebuah tongkat dari cahaya turun dari langit. Tongkat itu mengambil pemuda tersebut, akan tetapi tidak diketahui apakah langit mengangkatnya atau bumi yang menelannya.

Selanjutnya, Ibrahim ﷺ berjalan sampai naik di sebuah gunung, dan di sana ia melihat sebuah rumah yang mempunyai dua pintu, lalu ia memasuki rumah tersebut. Di dalam rumah itu, Ibrahim melihat mayat di ranjang dengan tujuh puluh pakaian. Di kepala mayat itu terdapat sabuk yang bertuliskan: "Aku adalah Syiddad bin 'Ad. Aku telah hidup selama seribu tahun dan mengalahkan seribu pasukan. Aku menikahi seribu perawan, dan aku mempunyai seribu anak laki². Dan aku juga membangun sebuah bangunan yang memiliki seribu tiang. Ketika ajalku akan datang, aku berusaha dengan semua kemampuanku dengan mengumpulkan semua tabib kerajaan. Akan tetapi mereka tidak mampu menahan kematianku. Maka barang siapa melihatku, hendaknya ia tidak tertipu dengan dunia. Rendahkanlah dunia atas kalian wahai manusia, sebab kalian tidak mempunyai sesuatu yang banyak dari yang aku punya, dan kalian tidak akan hidup lebih lama daripadaku. Kalian tidak akan mampu mengumpulkan harta melebihi yang aku kumpulkan. Kalian tidak akan diberikan anak seperti aku diberikan anak. Ingatlah! Dunia hanyalah tipuan, amat membunuh, dan permainan bagi penghuninya."

Setelah membaca itu, Ibrahim keluar dari tempat tersebut. Maka Allah Swt memberikan wahyu kepadanya: "Bagaimana pendapatmu.??"

"Wahai Tuhanku, aku melihat banyak hal yang menakjubkan," kata Ibrahim.

"Kembalilah wahai Ibrahim. Sebab keajaiban²Ku sangat banyak. Engkau tidak akan kuasa melihat semuanya."

📚[An-Nawadir. Hal. 109_110]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH DUA: "PERISTIWA YANG DIALAMI AL-MAKMUN DAN PAMANNYA, IBRAHIM"


Diceritakan dari al-Waqidi berkata sebagaimana disebutkan dalam banyak Alkitab:

Ibrahim al-Mahdi adalah saudara Harun ar-Rasyid yang mengaku sebagai pengganti Harun ar-Rasyid di daerah Rayy setelah kematian saudaranya, yakni pada masa kepemimpinan anak saudaranya, yaitu Amirul Mukminin al-Makmun. Ia menjadi penguasa di Rayy selama sekitar tiga puluh bulan. Lantas pada saat penyerangan kota itu oleh al-Makmun, Ibrahim al-Mahdi melarikan diri. Al-Makmun berusaha penuh menemukannya. Ia membuat sayembara: "Barang siapa menemukannya maka ia akan mendapatkan seratus ribu dirham atau dinar."

Dalam persembunyian, Ibrahim berkata:

"Aku menyembunyikan diri. Aku bingung pada masalah yang aku hadapi ini. Bumi seakan sempit bagiku. Aku tidak tahu ke mana aku menghadap. Lalu aku keluar dari persembunyian dengan menyamar pada siang bolong. Pada hari itu, hawa begitu panas. Tidak kuasa dengan cuaca, aku jatuh di pinggir jalan yang agak tertutup. Aku berkata: "Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji'un."

Aku telah menyebabkan jiwaku terancam. Apabila aku menempuh kembali jalan yang aku lewati, aku tidak ingat lagi. Padahal aku sedang menyamar.

"Pada saat itu, aku melihat seorang budak hitam berdiri di pintu rumahnya. Aku memaksa diri pergi kepadanya, dan berkata: "Apakah engkau mempunyai tempat untuk sekadar tidur sebentar..??"

"Ya, jawabnya.

"Ia membukakan pintu rumah dan berkata: "Silakan masuk."

"Aku masuk ke rumah yang terlihat amat bersih itu. Di dalamnya terdapat tikar dan bantal yang terbuat dari kulit yang bersih. Ia menutup pintu dan pergi dari hadapanku begitu saja. Aku menyangka bahwa ia termasuk orang yang mengenal aku, dan mengikuti sayembara, lalu keluar untuk melaporkan keberadaanku.

Ternyata, kenyataannya tidak demikian. Beberapa saat setelah itu, ia datang dengan seorang kuli yang membawa segala sesuatu yang dibutuhkan, seperti roti, daging, gelas, piring, dan bejana. Ia meletakkan dan menata semua dengan baik. Kemudian ia menoleh kepadaku, dan berkata:

"Allah Swt menjadikan aku sebagai tebusanmu wahai junjunganku. Aku adalah seorang tukang bekam. Aku mengerti engkau memahami penghidupan yang aku kuasai. Barangkali engkau tidak akan menerimanya. Maka itu terserah engkau. Makanan² ini tidak pernah disentuh oleh siapa pun. Oleh sebab itu, lakukan apa yang engkau kehendaki."

Kemudian ia berpaling dariku, dan aku dalam keadaan sangat lapar. Aku memasak secukupnya, dan aku tidak pernah makan senikmat ini. Setelah selesai makan, ia berkata kepadaku:

"Tuanku, apakah engkau mempunyai minuman..?? Minuman bisa mengurangi beban, membuat jiwa tenang, dan bisa menghilangkan kesusahan.

"Tentu, aku menerimanya," balasku.

"Mendengar jawabanku itu, ia pergi dan mengambilkan gelas kaca dan guci baru yang belum pernah disentuh oleh siapa pun. Ia berkata kepadaku:

"Tuan, silakan dinikmati sepuasnya.

"Aku meminum air itu, dan merasakan segar yang luar biasa. Tidak lama kemudian, ia memberikan sebuah mangkuk baru berisi buah²an dan bunga²an yang ditaruh di pot tanah yang baru. "Apakah aku boleh bersamamu..?? Aku sangat senang dengan kehadiranmu di sini," tanya budak tersebut.

"Baik, silakan," kataku.

"Setelah itu, kami minum bersama. Ketika kami minum bersama, ia seperti merasakan sesuatu. Ia berdiri dan masuk ke kamar. Ia keluar dengan membawa kecapi. Ia berkata kepadaku:

Wahai Tuanku, bukan pangkatku meminta engkau menyanyikan sebuah lagu. Akan tetapi bolehkah engkau menyanyikannya untukku..?? Meskipun sebenarnya adalah kewajibanku untuk menjaga muruahmu. Apabila engkau berkenan menyenangkan seorang budak, maka itu adalah pandanganmu yang luhur.

"Dari mana engkau tahu aku bisa menyanyikan lagu dengan baik..??" tanyaku.

"Subhanallah! Wahai tuanku, masalah ini engkau lebih terkenal daripada dia dan dia. Engkau adalah Ibrahim bin al-Mahdi, Khalifah kami kemarin yang dicari² Al-Makmun dengan suatu sayembara berhadiah seratus ribu dirham. Sekarang engkau di sini memperoleh keamanan.

"Ketika ia mengatakan itu kepadaku, maka pandanganku tentang dia berubah. Ia adalah seorang yang agung di mataku, dan jelaslah muruah dia di sampingku. Dengan segera aku mengambil kecapi itu dan menyanyikan lagu dengan indah untuknya. Pada saat itu, dalam benakku terlintas memori berpisah dengan anak²ku dan negaraku. Demi Allah, hal ini tidak pernah ditanggung oleh semua tawanan. Aku berdendang:


Semoga Tuhan memberikan hadiah Yusuf bertemu keluarganya

Dia memuliakannya di penjara meskipun ia seorang tawanan

Semoga Tuhan mengabulkan doa dan mengumpulkan cerai-berai kami

Dan Allah adalah Pemelihara Alam Yang Maha Kuasa

"Nyanyianku membuatnya hanyut dalam kesenangan, ia menari² sambil meneguk minuman yang sangat menyegarkan. Ada yang bilang bahwa ketika Ibrahim berkata kepada budaknya: "Wahai budak, talikan barang² itu, pendengarnya langsung merasakan senang. Ketika perasaan tenang dan kesenangan dirasakan, tukang cantuk berkata kepadanya:

"Wahai tuanku, apakah engkau memberikan aku izin untuk menyanyikan sebuah lagu yang terlintas dalam benakku, meskipun aku memang tidak menguasainya..??."

"Itu menambah muruahmu, kesempurnaanmu, dan kebaikan adabmu, kataku kepadanya.

"Ia mengambil kecapi, dan menyanyikan sebuah lagu:


Kami mengadu kepada para kekasih sepanjang malam

Mereka berkata; alangkah pendeknya malam ini bagi kami

Selalu kecerobohan tidur menutup mata mereka

Dengan cepat, sementara tidur tidak menutup mata kami

Ketika malam pekat membawa nafsu mendekat

Kami susah, sementara mereka senang ketika malam itu mendekat

Sungguh, apabila mereka bertemu sebagaimana kami

Niscaya mereka di ranjang tidur seperti kami


"Waktu itu, kami merasakan kesenangan besar yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Hampir saja aku menyangka bahwa rumah ini akan terbang bersama kami karena kesenangan tersebut. Semua kesusahan menyelimuti kami seolah hilang. Aku memintanya terus berdendang. Dengan gembira, ia menyambutnya:


la mencerca bahwa kami berjumlah sedikit

Aku berkata bahwa kemuliaan selalu sedikit

Tidak akan membahayakan, jumlah kami sedikit

Sementara tetangga kami yang besar kebanyakan hina

Pada suatu kaum, kami tidak melihat pembunuhan suatu cercaan

Ketika aku melihat itu pada Amir dan Salul

Cinta kematian mendekat kepada ajal kami

Kematian membenci umur mereka, maka panjanglah umurnya

Kesenangan begitu terasa. Kami tidur hingga setelah Isya.

Setelah itu, aku membasuh wajahku. Dalam benakku, aku masih berpikir betapa baiknya tukang cantuk ini. Ia mempunyai adab yang mulia. Aku membangunkannya dan mengeluarkan sebuah kantong yang berisi beberapa dinar, Aku memberikan semua kepadanya, dan berkata:

Allah Swt menitipkan ini kepadamu. Aku memintamu agar membelanjakan ini untukmu. Di mataku, engkau mempunyai kelebihan, ketika aku aman dari rasa takut yang menghantuiku."

"Setelah kata²ku selesai, tukang cantuk mengembalikan kantong itu, dan berkata:

Wahai tuanku, orang miskin seperti kami, yang tidak ada harganya bagi mereka, sementara aku akan mengambil harta yang diberikan zaman kepadaku, daripada dekat denganmu dan engkau mau singgah di rumahku. Demi Allah, seandainya engkau mengembalikan harta itu kepadaku, aku akan bunuh diri.

"Mendengar ucapan itu, aku mengambilnya. Dan begitu terasa bahwa betapa beratnya harta pemberian tersebut. Beberapa hari kemudian, aku jatuh dalam lamunan yang cukup lama, dengan perasaan takut yang mendadak datang seperti semula. Aku berusaha membuang rasa takut tersebut. Akan tetapi kesusahan dan ketakutan membayang²iku, bahwa semua orang melihat keberadaanku, bahwa semua orang mengetahuiku dan tempat tinggalku. Maka tidak ada satu tempat pun bagiku. Seandainya tenang, maka itu akan menjadi suatu musibah.

"Selama kira² delapan malam, aku berpindah² dari satu tempat ke tempat lain dalam kegelapan malam. Sakit yang luar biasa aku rasakan, hanya Allah Swt yang tahu. Kemudian aku sampai pada sebuah jembatan yang dijadikan tempat berkunjung oleh orang². Tentang tempat ini, seorang penyair bernama Ibnu al-Jahmi berkata:

Mata² lembut di antara tanggul dan jembatan

Melihat kesenangan yang sekiranya aku mengerti, tapi tidak aku ketahui

Jembatan yang membentang itu terkena percikan air hingga mengalir. Pada pemandangan seperti ini, aku melihat seorang pengawal yang dulu melayaniku. Ia mengetahui keberadaanku, yang kemudian menyeru:

"Orang ini buronan yang dicari Amirul Mukminin."

"Lalu ia menangkap dan mengikatku. Akan tetapi aku mampu mendorong dengan keras kuda pengawal. Aku melemparkan kedua pengawal hingga terguling di tanah. Hal itu membuat perhatian orang² menuju kepadanya. Mereka langsung mengerumuninya. Dengan segera aku lari dari pengawal yang hendak menangkapku. Hingga aku berhasil melewati jembatan, dan masuk ke sebuah rumah dengan pintu rumah terbuka. Di teras rumah tersebut, seorang perempuan sedang berdiri. Aku menyapanya:

"Wahai pemimpin perempuan, kasihani aku, dan jagalah darahku. Aku adalah seorang laki² yang sedang ketakutan.

"Beristirahatlah! Di sini ada keluasan dan kemuliaan," jawab si perempuan.

"Ia membukakan pintu kamar untukku dan mempersilakan masuk. Lalu ia menyuguhkan makanan untukku sembari berkata:

"Tenangkan dirimu! Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaanmu.

"Beberapa waktu kemudian, pintu rumah diketuk dengan keras dari luar. Perempuan itu keluar hendak membukakan pintu rumah. Betapa kaget, ternyata yang mengetuk pintu adalah suaminya yang mana dia adalah seorang pengawal khalifah yang aku dorong kudanya. Kepalanya diikat dengan selembar kain, dengan darah yang mengalir pada bajunya. Pada waktu itu, ia sudah tidak menunggang kuda. Melihat keadaan ini, si istri berkata:

"Apa yang terjadi denganmu..??."

"Hari ini, aku telah ditaklukkan seorang pemuda. Dia melarikan diri." jawabnya.

"Lalu ia menceritakan kisahnya. Si istri begitu iba terhadap suaminya. Ia mengambil selembar kain dengan taburan obat di atasnya. Kemudian ia membalut luka pada tubuh si suami. Begitu selesai, si istri mempersilakan suaminya tidur. Ia mengetahui bahwa suaminya dalam keadaan lemah.

"Perempuan yang berhati lembut tersebut pergi ke tempatku, dan berkata:

"Apakah engkau yang diceritakan suamiku..??."

"Benar, jawabku."

"Tidak apa², selama dia masih sakit, engkau aman." tegasnya.

"Selama tiga hari, aku berada di rumah perempuan itu, dengan pelayanan dan penghormatan yang baik. Pada hari ketiga, ia menyapaku:

"Sekarang, suamiku telah sembuh. Aku takut ia akan menangkap dan menyakitimu. Sebaiknya engkau menyelamatkan diri.

"Aku memahami maksudnya, yang tidak ada tujuan mengusirku. Aku sabar menunggu hingga waktu malam. Setelah gelap dan berpamitan dengannya, aku keluar dengan memakai pakaian wanita. Kemudian aku pergi menuju rumah pengawalku yang dahulu, yang mempunyai seorang budak perempuan yang telah aku merdekakan. Ketika perempuan itu melihatku, ia menangis dan menaruh belas kasihan kepadaku. Akan tetapi ia tetap memuji Allah Swt, sebab aku selamat dari ancaman para pengawal Khalifah.

"Perempuan itu lalu keluar, sepertinya pergi ke pasar untuk membelikan makanan. Namun dugaanku salah, sebab ia melaporkan keberadaanku dan membawa Ibrahim al-Mushili dengan pasukannya. Pikiranku sontak tidak keruan, ketika perempuan itu menyerahkanku kepada Ibrahim.

"Dalam benakku, terbayang kematian di depan mataku. Aku digiring ke istana menghadap Al-Makmun dengan pakaian wanita itu. Kerajaan sepertinya menyediakan suatu pertemuan umum, dan aku dimasukkan ke majelis tersebut. Ternyata benar, aku diseret ke dalam ruangan tersebut. Di hadapan Khalifah, aku mengakui khilafahnya. Akan tetapi tidak semudah itu, Al-Makmun berkata:

"Allah Swt tidak akan menyelamatkanmu, dan tidak akan membiarkanmu hidup."

"Pelan² Tuan! Penguasa tuntutan menguasai qishash dan ampunan. Sementara engkau tahu bahwa ampunan lebih mendekatkan diri kepada takwa. Sungguh ampunanmu pada hari ini berharga di atas segala ampunan, sebagaimana dosa yang aku lakukan di atas segala dosa. Apabila engkau hendak menghukumku, itu adalah hakmu. Apabila engkau hendak memaafkanku, maka suatu keutamaan bagimu, seperti sebuah bait syair menyatakan:


Dosaku kepadamu sangat besar

Sedangkan engkau lebih besar darinya

Ambillah hakmu terlebih dahulu

Maka dengan belasmu, maafkanlah dosanya

Apabila aku bukanlah seorang pelaku suatu kebaikan, maka jadilah engkau sebagai pelakunya


"Setelah itu, ia mengangkat kepalanya kepadaku dengan wajah marah. Dengan segera aku berkata:


Aku telah melakukan suatu dosa besar

Sementara engkau adalah seorang pemaaf

Apabila engkau memaafkanku, maka suatu anugerah

Apabila engkau mengabaikan permohonanku, maka suatu keadilan


"Tidak aku sangka, ungkapan itu ternyata membuat hati Al- Makmun lunak. Aku diminta agar beristirahat dengan nyenyak olehnya. Kemudian aku menoleh kepada Abbas dan saudaranya, Abu Ishak, dan beberapa pejabat istimewa Bani Abbas. Dengan sedikit pandangan sinis, Abbas berkata:

"Bagaimana pendapatmu tentangnya..??"

"Respons orang² yang hadir pada majelis itu adalah isyarat agar aku mendapat eksekusi mati. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai bentuk eksekusi yang akan dilaksanakan, yang sekiranya bisa memberikan kebaikan bagi orang² di antara mereka yang melakukan perjanjian secara baik dengan Allah Swt, terlebih bagi yang mengetahui hari terus berganti. Al-Makmun berkata kepada Ahmad bin Khalid:

"Bagaimana pendapatmu, wahai Ahmad..??."

"Ahmad bin Khalid adalah seorang yang amat cerdas, sadar, dan cepat memahami isyarat² dan maksud² Khalifah.

Ia juga memahami bahwa tujuan Khalifah dalam kasus ini adalah pemaafan. Maka sikapnya pun ditujukan kepada yang mendukung perkataan khalifah:

"Wahai Amirul Mukminin, apabila engkau membunuhnya, engkau akan menemukan orang seperti engkau melakukan hal yang sama. Namun apabila engkau memaafkannya, engkau tidak akan menemukan orang lain berbuat sepertimu."

"Mendengar ucapan Ahmad, Al-Makmun diam beberapa saat sambil menundukkan kepala, lalu berkata:

Orang² menginginkan pembunuhan pamanku

Apabila aku melakukan, maka panahku akan mengenai aku sendiri


"Setelah ucapan itu, aku membuang rasa kepasrahanku dan bertakbir dengan suara keras yang menggemparkan majelis. Aku berkata:

"Semoga Allah Swt memaafkan Amirul Mukminin.

Al-Makmun menengok kepadaku, dan berkata:

"Tidak apa² Pamanku."

"Wahai Amirul Mukminin, dosaku sangat besar, apakah aku dibebaskan hanya dengan suatu pengakuan kesalahan..?? Sungguh, maafmu begitu agung jika hanya dibalas dengan ucapan terima kasih."

"Kemudian aku bersenandung:

Sesungguhnya Tuhan yang menciptakan kemuliaan telah memberikannya

Kepada tulang rusuk Adam kepada pemimpin ketujuh

Maka hati manusia dipenuhi oleh kepatuhan terhadapmu Dengan khusyu', mereka tunduk

Apabila aku menentangmu dan kesesatan menyodorkan berbagai sebab kepadaku

Semoga itu semua diakhiri dengan niat untuk patuh

Engkau memaafkan orang yang tidak pantas menerimanya

Juga tidak meminta pertolongan kepadamu

Engkau berbelas kepada anak burung, seperti anak burung al-Qatha

Seperti belas kasih seorang ibu dengan hati yang tulus


"Kemudian Al-Makmun berkata:

"Pamanku, engkau tidak mempunyai kesalahan. Aku telah memaafkanmu. Aku akan mengembalikan semua harta ambil darimu. Aku juga memberimu izin untuk tinggal bersamaku, kapan pun engkau mau. Paman, aku telah membunuh dengkiku dengan menghidupkan maafku. Aku memaafkanmu, dan tidak membebankanmu dengan kewajiban seorang yang meminta maaf.

"Setelah itu, Al-Makmun bersujud cukup lama, kemudian yang aku mengangkat kepala, dan berdiri."

"Wahai Paman, apakah engkau tahu, mengapa aku sujud..?? tanya Al-Makmun.

Engkau bersyukur kepada Allah Swt yang telah menundukkan musuh negaramu.

"Tidak demikian, tetapi aku bersyukur kepada-Nya yang telah memberiku ilham pemaafan kepadamu, dan lembutnya hati kepadamu. Maka sekarang ceritakan apa yang telah engkau alami.

"Atas permintaan Khalifah, aku menceritakan hal² yang aku alami, termasuk saat bersama tukang cantuk, pengawal kerajaan dan istrinya, serta pengawalku yang dahulu. Mendengar penjelasanku itu, Khalifah memerintahkan agar mereka dihadirkan ke istana. Sementara budak pengawalku yang dahulu itu sedang menunggu hadiah di rumah, sebab telah melaporkan aku kepada Khalifah. Al-Makmun berkata kepada wanita tersebut:

"Apa yang menyebabkan engkau melakukan itu kepada tuanmu..??."

"Aku menginginkan harta." jawabnya.

"Apakah engkau mempunyai anak atau suami..??," tanya Al-Ma'mun.

"Tidak," jawabnya.

"Khalifah memerintahkan pengawal agar mencambuknya sebanyak dua ratus kali, dan agar dihukum selamanya. Kemudian Khalifah menoleh kepada bekas pengawalku dan berkata:

"Sebaiknya engkau menjadi tukang cantuk. Mulai saat ini, aku menugaskanmu untuk membekam orang yang membutuhkannya. Aku perintahkan engkau untuk mengajarkan kepada anak² yatim tentang cara membekam."

"Sedangkan istrinya diberikan penghormatan dan diangkat menjadi pelayan istana. Tentangnya, Khalifah berkata:

"Ini adalah perempuan yang cerdas, yang mendahulukan urusan² penting."

"Terakhir, Khalifah berkata kepada tukang cantuk:

"Telah tampak kepadaku, engkau seorang yang mempunyai muruah baik, yang mengharuskan aku memuliakanmu.

"Setelah itu, Khalifah memerintahkan agar tukang cantuk tersebut diberi rumah sekaligus isinya yang sebelumnya ditempati oleh pengawal yang sekarang menjadi tukang cantuk. Di dalam rumah tersebut, disediakan berbagai makanan. Juga ia diberi seribu dinar setiap tahun. Allah Swt memberikan rahmat dan memaafkan mereka, apabila mereka termasuk orang yang berbuat salah. Segala puji bagi Allah Swt, Tuhan penguasa alam."

📚[An-Nawadir. Hal. 110_115]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH TIGA: "KEMULIAAN DAN KECERDASAN"


Diceritakan dari 'Abbas r.a,  dan ia adalah termasuk bangsawan yang murah hati dan dermawan:

Pada suatu hari, pada saat ia kembali dari Syam menuju Hijaz, ia istirahat sejenak di sebuah tempat, kemudian ia meminta pelayannya mengambilkan makanan. Namun mereka tidak mendapatkannya karena kehabisan. 'Abbas berkata kepada salah seorang dari mereka:

"Carilah di tempat ini, barangkali engkau menemukan seorang penggembala atau seseorang yang membawa susu atau makanan."

Bersama pelayan yang lain, ia pergi. Di daerah tersebut, ia bertemu dengan seorang nenek. lalu mereka menyapa:

"Apakah engkau mempunyai makanan yang bisa kami beli..??"

"Makanan yang dijual, kalian tidak akan menemukannya. Aku hanya mempunyai makanan untukku dan anak²ku," jawab nenek itu.

"Di mana anak²mu?" tanya para pelayan.

"Mereka di rumah. Ini adalah bejana makanan yang akan aku berikan kepada mereka," ucap si nenek.

"Apa yang kamu persiapkan untuk dirimu dan anak²mu..??" tanya para pelayan.

"Roti tawar yang aku panggang dengan arang panas," jawab si nenek.

"Apakah ada makanan lain selain itu..??" tanya para pelayan lagi.

"Tidak ada sama sekali," jawab si nenek.

"Berikanlah sebagian makanan itu kepada kami," pinta para pelayan.

"Bila setengah aku tidak akan memberikannya. Akan tetapi bila semuanya, maka ambillah!" kata si nenek.

"Bagaimana engkau enggan memberikan setengah, namun malah memberikan permintaan seluruhnya..??" tanya para pelayan.

"Benar, sebab pemberian setengah hanyalah suatu kekurangan, dan pemberian keseluruhan adalah kesempurnaan dan kelebihan. Maka aku mencegah sesuatu yang menjatuhkanku, dan memberikan sesuatu yang mengangkatku," jelas si nenek.

Mereka mengambil makanan itu dari si nenek. Sementara si nenek sama sekali tidak menanyakan siapa mereka dan dari mana mereka berasal. Ketika mereka sampai kepada 'Abdullah dan menceritakan kisahnya bersama nenek tersebut, 'Abdullah takjub dengan sikapnya dan berkata:

"Bawalah dia kemari sebentar saja!"

Mereka kembali ke tempat nenek tersebut, dan berkata:

"Nek, ikutlah bersama kami kepada Tuan kami, sebab ia hendak bertemu denganmu."

"Siapa Tuan kalian..??" tanya si nenek.

"'Abdullah bin 'Abbas," ungkap mereka.

"Aku tidak mengenal nama ini, dan siapa 'Abbas..??" Kata si nenek.

"Dia adalah paman Rasulullah ﷺ," jawab para pelayan.

"Demi orang tua kalian, dia adalah orang mulia yang luhur dan sangat tinggi derajatnya. Apa yang dikehendakinya dariku..??" tanya si nenek.

"Ia ingin memenuhi segala kebutuhanmu," jawab para pelayan.

"Pergilah, demi Allah, seandainya apa yang aku lakukan diketahui, maka aku tidak akan memperoleh penggantinya. Bagaimana mungkin aku mengambil ganti, sebab itu adalah sesuatu yang wajib ditunaikan oleh semua orang, antara yang satu kepada yang lain!" kata si nenek.

Mereka terus merayu si nenek, dan pada akhirnya mereka berhasil membujuk si nenek untuk bertemu dengan 'Abdullah bin 'Abbas. Ketika sampai di hadapan 'Abdullah bin 'Abbas, si nenek menyampaikan salam kepadanya. 'Abdullah bin 'Abbas pun menjawabnya, dan mendekati tempat duduk si nenek, lalu berkata:

"Dari mana engkau Nek..??"

"Aku dari Bani Kalb," jawab si nenek.

"Bagaimana keadaanmu..??" tanya 'Abdullah.

"Aku hidup kekurangan, akan tetapi aku bisa tidur setiap malam. Aku melihat keindahan pada segala sesuatu. Maka tidak ada di dunia ini kecuali telah aku dapatkan."

"Lalu apa yang engkau simpan untuk anakmu ketika mereka datang..??" tanya 'Abdullah bin 'Abbas.

"Aku menyimpan sesuatu yang dikatakan Hatim Thayyi:

Sungguh aku telah bermalam berselimut lesu

Hingga pagi, sampai aku memperoleh makanan pemberian


Ucapan si nenek itu membuat 'Abdullah bin 'Abbas semakin takjub. Kemudian ia berkata:

"Apabila anak²mu datang kepadamu, sementara mereka lapar, apa yang akan engkau perbuat..??"

"Wahai Tuan, roti ini sangat banyak, sehingga engkau terlalu banyak bicara, dan itu membuatmu terlampau sibuk. Lupakanlah itu, sebab itu hanya merusak jiwa dan menimbulkan kerendahan."

'Abdullah bin 'Abbas berkata:

"Datangkan kepadaku anak²nya."

Para pengawal dan pelayan memanggil anak²nya. Sampai di hadapan 'Abdullah bin 'Abbas dan mengetahui keberadaan ibunya, mereka menyampaikan salam.

"Aku tidak menuntut kalian dan ibu kalian akan sesuatu yang tidak menyenangkan. Tetapi aku ingin membuat keadaan kalian menjadi lebih baik, dan derita yang kalian alami hilang," kata 'Abdullah bin 'Abbas.

"Ini jarang terjadi, biasanya orang meminta kami bekerja untukmu dalam waktu yang lama," jawab anak² si nenek.

"Tidak ada satu pun! Akan tetapi aku mendekati kalian pada malam ini dan hendak memberikan sebagian hartaku kepada kalian."

"Wahai Tuan, kami hidup dalam kesederhanaan dan sedikit rezeki. Berikanlah harta itu kepada orang yang lebih berhak menerimanya. Akan tetapi bila engkau hendak berbuat baik, maka kebaikanmu adalah pekerjaan mulia dan aku terima."

"Ya, aku senang mendengarnya." jawab 'Abdullah.

Kemudian sebanyak sepuluh dirham dan dua puluh unta diberikan kepada mereka. Kepada anak²nya, si ibu berkata:

"Sebaiknya kalian membacakan sebuah syair dan aku akan mengikutinya."


Anak tertua berkata:

Aku bersaksi, engkau mempunyai kata² yang baik

Perbuatan yang mulia dan kabar gembira


Anak kedua berkata:

Engkau melakukan kebaikan sebelum diminta

Maka itu suatu keagungan, kebesaran, dan kemuliaan hati


Anak ketiga berkata:

Adalah suatu kebenaran bagi orang yang melakukannya

Yaitu memberikan kemurahan hati kepada manusia


Dan si ibu berkata:

Semoga Allah Swt memanjangkan umurmu dalam kemuliaan

Dan menjagamu dari segala kehinaan dan ketakutan


📚[An-Nawadir. Hal. 116_117]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH EMPAT: "KEUTAMAAN SHADAQAH"


Diceritakan: Pada suatu hari 'Abdullah bin al-Mubarak masuk ke kota Kufah yang bertujuan hendak melaksanakan ibadah haji. Kemudian di tengah perjalanan ia melihat seorang perempuan yang sedang mencabut bulu itik di tempat pembuangan kotoran kandang, maka ia menganggap bahwa itik tersebut adalah bangkai. Kemudian ia pun berhenti untuk memastikannya:

"Wahai perempuan, apakah itik tersebut bangkai atau disembelih..??"

"Itik ini bangkai, dan aku hendak memakannya nanti bersama keluargaku," jawab perempuan tersebut.

"Allah Swt telah mengharamkan bangkai, sedangkan engkau di negeri ini ingin memakannya..??" Ucap Abdullah bin al-Mubarak.

"Wahai Tuan, pergilah dariku," bentak perempuan itu.

Akan tetapi 'Abdullah bin al-Mubarak berulang² memperingatkannya, hingga perempuan itu pun menjelaskan:

"Sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang belum makan selama tiga hari, dan aku belum menemukan makanan sedikit pun!" Keluh si perempuan.

Mendengar penjelasan perempuan itu, 'Abdullah bin Mubarak pun berpaling dan pergi darinya. Setelah itu, ia membawa makanan, pakaian, dan bekal. Dan Ia datang ke rumah perempuan tersebut. Saat tiba di rumah si perempuan, ia mengetuk pintu rumahnya, dan si perempuan itu pun membuka pintu rumahnya.

Kemudian 'Abdullah bin al-Mubarak meletakkan bawaannya. Sambil menunjuk pada barang tersebut, ia berkata:

"Ini adalah nafaqah, pakaian, dan makanan. Ambillah semuanya dan semua barang ini milikmu."

'Abdullah bin al-Mubarak pun menetap di rumah tersebut beberapa saat, karena haji yang hendak ia tunaikan telah luput, hingga ia pulang bersama rombongan haji pada saat rombongan melewati daerah itu. Setelah sampai di rumah, orang² mendatangi dan mengucapkan selamat kepadanya atas pelaksanaan ibadah haji. Ia mengatakan kepada mereka:

"Aku tidak melaksanakan ibadah haji pada tahun ini!"

"Subhanallah, tidakkah aku menitipkan bekalku kepadamu pada saat kami pergi ke sana, kemudian aku mengambilnya di 'Arafah darimu..??" tanya salah seorang teman haji.

Sementara yang lain juga berkata:

"Bukankah engkau yang telah memberikan air kepadaku di tempat itu..??"

Teman yang lain lagi berkata:

"Tidakkah engkau yang membelikan ini dan itu kepadaku..??"

Maka ia berkata:

"Aku tidak memahami apa yang kalian katakan. Sungguh aku tidak melaksanakan ibadah haji pada tahun ini."

Ketika malam tiba, ia tidur. Di dalam tidur ia bermimpi bertemu seseorang yang berkata:

"Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah Swt menerima sedekahmu, dan Allah Swt mengutus seorang malaikat dengan bentuk sepertimu yang mengganti ibadah hajimu!"

📚[An-Nawadir. Hal. 117_118]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH LIMA: "PERISTIWA YANG DIALAMI OLEH IBU NABI MUHAMMAD ﷺ SEBELUM KELAHIRAN BELIAU"


Permata: Diceritakan bahwasanya Ibunda Nabi Muhammad ﷺ melihat seseorang berkata kepadanya dalam mimpi:

"Sungguh engkau telah mengandung junjungan manusia dan alam terbaik. Apabila engkau melahirkannya, maka berilah namanya; Muhammad, dan gantungkanlah jimat ini padanya."

Kemudian ia bangun dari tidur, dan berkata:

"Di samping kepalaku terdapat lempengan emas yang tertulis:


Aku melindunginya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dari segala kejelekan penipu dan semua makhluk yang bergerak. Pada saat berdiri dan duduk. Dan dari semua jin yang memberontak yang selalu mengintai di jalan yang bertetangga.


"Aku mencegah mereka menyentuhnya dengan ketinggian yang sangat luhur. Aku meliputinya dengan kekuasaan yang tinggi, telapak yang tidak diketahui (kekuasaan Allah Swt di atas kekuasaan mereka), dan hijab Allah Swt yang tidak bisa mereka tembus, tidak bisa mereka jatuhkan, dan tidak bisa mereka bahayakan pada malam, siang, duduk, dan berdiri pada setiap penggalan malam sepanjang malam dan siang. Ketika melahirkannya, aku mendengar seorang memanggil:

"Berthawaflah untuk kelahiran Muhammad dan semua nabi, wahai semua penduduk bumi. Berpalinglah kepadanya dengan menghindar dari semua ruh, baik manusia, jin, malaikat, burung, dan hewan buas. Berikanlah kepadanya penciptaan Adam, pengetahuan Syits, keberanian Nuh, kasih sayang Ibrahim, lisan Ismail, ridha Ishaq, kecerdasan Shalih, hikmah Luth, kegembiraan Ya'qub, kecakapan Yusuf, keberanian Musa, kesabaran Ayyub, ketaatan Yunus, jihad Yusya', suara Daud, kecintaan Danial, kewibawaan Ilyas, keterpeliharaan Yahya, dan zuhud Isa. Dan tenggelamkanlah ia ke dalam semua akhlak² para nabi."

📚[An-Nawadir. Hal. 118_119]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH ENAM: PERISTIWA² AJAIB YANG TERJADI PADA KHIDHIR"


Dikisahkan: Ditanyakan kepada Khidir ﷺ:

"Apa sesuatu yang paling menakjubkan yang pernah engkau lihat dalam umurmu.??"

Khidhir mengisahkan:

Sesuatu yang paling menakjubkan yang aku lihat dalam hidupku adalah pada suatu hari aku lewat di suatu gurun yang tandus lagi kering. Kemudian aku tersesat selama lima ratus tahun di sana. Aku terus berjalan hingga menemukan sebuah kampung yang begitu mengagumkan, sangat besar, penuh dengan pohon dan sungai. Aku bertanya kepada salah seorang di antara mereka:

"Berapa tahun umur kota ini..??"

"Subhanallah, sesungguhnya kami dan nenek moyang kami tidak mengetahui kecuali keadaan yang sekarang kami alami ini," jawabnya.

Lalu aku pergi darinya selama lima ratus tahun. Kemudian pada perjalanan itu, aku menemukan sebuah laut yang sangat luas. Di sana aku melihat seorang nelayan. Aku bertanya padanya:

"Wahai Tuan, di mana kota yang terdapat di daerah ini..??"

"Subhanallah, apakah ada kota di daerah ini..?? Kami, ayah² kami, dan nenek moyang kami tidak pernah mendengar ada kota di daerah ini," jawab si nelayan.

Kemudian aku pergi darinya selama lima ratus tahun. Terus aku melakukan perjalanan. Di sebuah perjalanan, aku menemukan sebuah kota yang amat ramai seperti kota pertama yang aku temui. Maha Suci Dzat yang tidak hilang dan tidak berubah.

📚[An-Nawadir. Hal. 119]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH TUJUH: "SEBAGIAN MU'JIZAT NABI ISA 'ALAIHIS SALAM"


Keajaiban yang mulia: Dikisahkan bahwa Nabi 'Isa ﷺ memberi tahu kepada anak² tentang makanan yang dimakan oleh orang tua mereka. Mendengar berita tersebut, anak² pulang mendatangi orang tua mereka, dan meminta makanan yang dimakan oleh orang tua mereka. Para orang tua berkata:

"Siapa yang memberi tahu kalian..??"

"Kami diberi tahu 'Isa," jawab mereka.

Setelah itu, para orang tua mencegah anak² mereka bertemu 'Isa, dan menempatkan mereka dalam rumah yang luas. Karena tidak bertemu dengan anak² lagi. Akhirnya Nabi 'Isa bertanya:

"Di mana anak² kalian..?? Apakah mereka ada di sini..??"

"Tidak ada, di rumah hanya ada kera dan babi," jawab para orang tua.

"Baiklah, dan sekarang mereka menjadi seperti itu, Insyaallah," ucap Nabi 'Isa.

Kemudian para orang tua pulang ke rumah, dan ketika membuka pintu rumah, para orang tua melihat anak² mereka berubah menjadi kera dan babi.

📚[An-Nawadir. Hal. 119_120]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH DELAPAN: "ASAL MULA BIJI TUMBUH²AN YANG BERBAU HARUM DI PERSIA"


Diceritakan: Bahwasanya seekor ular masuk ke istana dengan menyelinap di bawah ranjang Kisra. Para pengawal yang melihat keberadaannya hendak membunuhnya, akan tetapi Kisra mencegah mereka dan memerintahkan sebagian pengawal mengusir dan mengikuti ke mana ular itu pergi. Setelah diikuti, ternyata ular itu menuju ke sebuah sumur.

Ular itu melihat sumur dan melihat pengawal yang mengikuti. Pengawal yang mengetahui maksudnya ular, ia pun melihat ke sumur. Di dalam sumur ia melihat seekor ular yang terbunuh dan di atasnya terdapat seekor kalajengking. Kemudian pengawal tersebut membunuh kalajengking itu. Kemudian ular itu menghadap kepada Kisra dan melemparkan biji dari mulutnya ke hadapan Kisra. Mengetahui itu, Kisra mengambil dan menanam biji tersebut hingga tumbuh menjadi minyak yang harum dan terkenal di Persia. Pada suatu saat, Kisra menderita penyakit asma, dan dengan menggunakan tanaman tersebut, ternyata ia bisa sembuh total. Wallahu a'lam.

📚[An-Nawadir. Hal. 120]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS TIGA PULUH SEMBILAN: "KEUTAMAAN SHADAQAH"


Disebutkan dalam Sebuah riwayat bahwa pada suatu hari, Aisyah Ra membeli seorang budak perempuan. Kemudian Jibril turun menghadap Nabi Muhammad ﷺ dan berkata:

"Wahai Rasulullah, keluarkanlah budak perempuan tersebut dari rumahmu, sebab ia adalah ahli neraka."

Setelah di beritahu Rasulullah ﷺ, 'Aisyah pun mengeluarkan budak itu, dan 'Aisyah juga memberikan beberapa biji kurma kepadanya. Dalam perjalanan, budak tersebut hanya memakan sebagian kurma saja. Lalu ia bertemu dengan seorang faqir, maka ia memberikan sebagian kurma yang tersisa tersebut kepada si faqir.

Beberapa waktu kemudian, Jibril datang kepada Nabi Muhammad ﷺ dan memerintahkannya agar mengembalikan budak perempuan yang telah dikeluarkan itu, sebab ia menjadi ahli surga karena sedekah yang dilakukan kepada si faqir. Wallaahu a'lam

📚[An-Nawadir. Hal. 120]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT PULUH: MASIH TENTANG KEUTAMAAN SHADAQAH"


Diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Ia berkata:

"Pada suatu ketika Madinah pernah mengalami kemarau yang berkepanjangan dan kelaparan. Kemudian 'Utsman Ra diberi sumbangan makanan dalam jumlah besar dari kota Syam. Para pedagang Madinah datang kepada 'Utsman hendak membeli makanan tersebut. Ia berkata kepada mereka:

"Berapa kalian memberikan keuntungan pada makanan itu..??"

"Kami memberi keuntungan dua dirham untuk setiap sepuluh," kata para pedagang.

"Berilah tambahan keuntungan kepadaku," pinta 'Utsman.

"Kami memberi keuntungan empat dirham untuk setiap sepuluh," tambah para pedagang.

"Berilah tambahan keuntungan kepadaku," pinta 'Utsman lagi.

"Kami pedagang Madinah, siapa yang akan memberikan tambahan keuntungan kepadamu..??," tanya para pedagang.

"Allah Swt memberikan tambahan setiap dirham sepuluh kali lipat, dan aku akan menyedekahkan makanan ini kepada orang faqir," jawab 'Utsman.

Ibnu 'Abbas berkata:

"Kemudian aku bermimpi bertemu Nabi Muhammad ﷺ yang sedang naik kuda berwarna belang memakai pakaian sutra dari cahaya, dan beliau tampak tergesa². Lalu aku menyapa beliau ﷺ:

"Wahai Rasulullah, aku merindukanmu."

"Wahai Ibnu 'Abbas, 'Utsman telah bersedekah, dan Allah Swt telah menerima sedekahnya 'Ustman. Allah Swt menjadikannya pengantin di surga, dan kami diajak menghadiri pernikahannya," ucap Rasulullah ﷺ.

📚[An-Nawadir. Hal. 120_121]


HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT PULUH SATU: "KARAMAH SEBAGIAN WALI"


Diceritakan: Seorang syekh Radhiyallahu 'anh pernah mengunjungi salah seorang pedagang di kota Iskandariah, dan syekh tersebut mendapatkan sambutan dan penghormatan yang baik. Kemudian ia melihat tempat duduk pedagang tersebut, dua alas ruangannya tampak begitu mahal dari negeri Romawi.

Setelah itu, syekh memintanya kepada si pedagang, akan tetapi pedagang enggan memberikannya dan berkata:

"Wahai Tuanku, aku akan memberikan sekehendak engkau selain dua barang ini."

Syekh menolak tawaran pedagang, dan berkata:

"Aku tidak mencari apa pun selain kedua barangmu itu!"

"Apabila itu harus, maka ambillah salah satu dari keduanya," kata pedagang.

Kemudian syekh mengambil salah satu alas tersebut. Setelah itu, syekh pun berpamitan kepada si pedagang. Dan ternyata si pedagang tersebut mempunyai dua anak yang sedang pergi ke India. Masing² menggunakan kapal untuk perjalanan. Beberapa waktu kemudian, sebuah berita buruk sampai kepada si pedagang bahwa salah satu anaknya meninggal dunia karena tenggelam di lautan bersama barang bawaannya, sementara anak yang lain selamat sampai tujuan dan bertemu ayahnya setelah beberapa waktu.

Ketika anak itu mendekati kota Iskandariah, si ayah keluar hendak menyambutnya di ujung kota. Tiba² si ayah melihat bahwa anaknya membawa alas yang telah diambil oleh syekh darinya. Si ayah pun terkejut dan menanyakan itu dari mana asalnya..??

Si anak menjawab:

"Wahai ayah, alas ini mempunyai kisah yang sangat menakjubkan dan tanda² yang sangat agung.

"Beri tahu aku itu wahai anakku," Pinta sang ayah.

Si anak pun menceritakan kisahnya, bahwa:

"Perjalanan yang aku tempuh bersama adik dari India sangat menyenangkan, sebab anginnya cukup baik. Di tengah lautan, tiba² angin itu berubah kencang sekali, dan kami semua kebingungan. Bahkan angin itu memecahkan dua kapal kami. Semua penghuni kapal panik dan sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri, lalu mereka menyerahkan semua urusan kepada Allah Swt. Tiba² tampak oleh kami seorang syekh yang membawa alas ini. Kemudian ia mengikat kapal kami dengan alas tersebut. Maka kami dapat selamat dengan kondisi kapal yang ditali oleh alas tersebut hingga sampai di pelabuhan. Setelah itu, ia memindahkan barang² yang diangkut oleh kapal dan melakukan itu kepada kami dengan baik."

Si ayah kemudian bertanya:

"Wahai anakku, apakah engkau mengenal syekh itu apabila engkau bertemu dengannya..??"

"Ya, aku mengenalnya."

Lalu ia mengajak anaknya menemui syekh. Ketika si anak melihat syekh, ia langsung berteriak keras dan berkata:

"Wahai ayahku, ini dia orangnya."

Setelah itu, ia langsung pingsan. Kemudian syekh memegang kepala si anak tersebut dan ia pun sadar kembali, beserta hatinya menjadi tenang.

Lalu si pedagang (ayah anak tersebut) bertanya kepada syekh:

"Mengapa engkau tidak memberi tahu aku yang sebenarnya wahai Tuan, sehingga aku memberimu dua alas itu sekaligus.

Astarghfirullahal 'azhim."

Syekh menjawab:

"Begitulah kehendak Allah Swt."

📚[An-Nawadir. Hal. 121_122]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT PULUH DUA: "KEUTAMAAN SEDEKAH BAGI ORANG YANG TELAH MENINGGAL"


Dikisahkan: Shalih al-Mursi berkata:

Pada suatu malam Jum'at aku keluar hendak melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid. Pada saat itu, aku melewati pekuburan. Tiba² bisikan hatiku mengatakan untuk berhenti sejenak untuk melaksanakan shalat sampai muncul fajar. Maka aku pu  melaksanakan shalat Fajar dua rakaat. Setelah selesai shalat, rasa kantuk pun tak tertahankan dan ingin tidur sebentar. Di dalam tidur, aku melihat penghuni kubur seolah² keluar dari kubur dengan pakaian serba putih, dan mereka duduk secara berkelompok sambil berbincang².

Akan tetapi salah seorang pemuda di antara mereka memakai pakaian kotor dan duduk sendirian dengan muka sedih. Mereka tetap di tempat masing² hingga datang piring yang ditutup dengan sapu tangan. Masing² mengambil satu piring dan membawanya masuk ke kubur. Hanya seorang pemuda itu yang tidak mendapatkan apa². Ia berdiri melangkahkan kaki menuju kuburnya dalam keadaan sedih.

Melihat keadaan ini, aku pun bertanya pada pemuda itu:

"Wahai hamba Allah Swt, aku melihat engkau dalam keadaan sedih, apa penyebabnya..??"

"Wahai hamba shalih, apakah engkau melihat piring² itu..??" balasnya.

"Ya, apa itu..??" tanyaku.

"Itu adalah piring² orang yang masih hidup untuk mereka yang sudah meninggal. Ketika mereka bersedekah dan berdoa kepada para mayat, maka piring² itu datang kepada mereka setiap hari Jum'at sebagaimana engkau melihatnya. Dan aku ini hanyalah seorang laki² asing dari penduduk India yang hendak pergi ke Basrah bersama ibuku. Aku hendak melaksanakan ibadah haji, namun tiba² aku meninggal di sini, sementara ibuku menikah lagi, dan tampaknya ia sibuk bersama suaminya sehingga ia tidak ingat kepadaku tentang sedekah dan doa, seolah² ia tidak mempunyai anak. Dunia telah melalaikannya. Maka wajar bila aku sedih, sebab tidak ada seorang pun yang masih hidup yang mengingat aku," jelas pemuda itu.

"Di mana tempat tinggal ibumu..??" tanyaku.

Ia pun memberi tahu aku tempat tinggal ibunya. Keesokan harinya, setelah melaksanakan shalat Subuh, aku pergi dari kuburan itu menuju rumah ibunya yang ditunjukkan oleh pemuda tersebut. Setelah sekian waktu perjalanan, aku merasa bahwa rumah yang ada di depanku itu adalah rumah ibu si pemuda. Aku mengetuk pintu rumah tersebut. Dari dalam rumah, seorang wanita berkata:

"Siapa yang mengetuk pintu..??"

"Shalih al-Mursi," jawabku.

Ia memberiku izin masuk ke rumah. Kemudian aku berkata kepadanya:

"Aku ingin tidak ada seorang pun mendengarkan kata² yang aku sampaikan kepadamu ini."

Aku pun mendekat kepadanya dengan satir sebagai penghalang. Aku melanjutkan ucapanku:

"Semoga Allah Swt memberikan rahmat kepadamu. Apakah engkau mempunyai seorang anak..??"

"Tidak," jawab perempuan itu.

"Apakah engkau mempunyai anak yang sudah meninggal..??"

"Benar, aku mempunyai seorang anak laki² yang telah meninggal, dan ia masih muda," jawab perempuan itu.

Setelah itu, aku menceritakan kisah anaknya yang bertemu aku di suatu kuburan. Ia menangis tersedu², air mata berlinangan di pipinya, lalu ia berkata:

"Dia itu darah dagingku. Aku mengandungnya dengan perutku sendiri. Aku memberinya minum dari susuku sendiri. Aku memangkunya dengan pangkuanku sendiri."

Kemudian ia memberikan sedekah seribu dirham sambil berkata:

"Sedekahkanlah ini untuk anakku tercinta dan penyejuk mataku. Demi Allah, aku tidak akan melupakannya sesudah ini dengan sedekah dan doa selama sisa umurku."

Setelah itu, aku pergi dan menyedekahkan harta tersebut kepada orang² yang membutuhkan. Kemudian pada malam Jum'at yang lain, aku hendak melaksanakan shalat Fajar di masjid. Aku melewati kuburan tempat pemuda itu dimakamkan. Lalu aku menunaikan shalat dua rakaat di tempat semula. Aku tertidur dan bermimpi bertemu dengan penghuni kubur seperti mimpiku yang sebelumnya. Di antara orang² itu, aku melihat seorang pemuda yang memakai pakaian putih dan bersih. berwajah senang dan bahagia. Ia mendekatiku dan berkata:

"Wahai Shalih, "semoga Allah Swt membalas kebaikanmu. Telah sampai kepadaku hadiah²."

"Apakah engkau mengetahui siang hari pada hari Jum'at..??" tanyaku kepadanya.

"Ya," sesungguhnya burung² akan mengetahuinya dan berkata: "Selamat, selamat! Hal ini diucapkan karena takut kiamat terjadi pada Jum'at tersebut."

📚[An-Nawadir. Hal. 122_123]


💧والله اعلم💧

(Lathifah) "'Aisyah berkata: "Wahai Rasulullah, apa sesuatu yang tidak boleh dicegah..??"

Rasulullah ﷺ menjawab: "Air, garam, dan api"

"Wahai Rasulullah, itu sudah kami ketahui. Akan tetapi, bagaimana dengan garam dan api..?"

Rasulullah ﷺ Menjelaskan:

"Barang siapa bersedekah memberikan garam, maka seolah² bersedekah dengan segala sesuatu yang menjadi nikmat oleh garam. Dan barang siapa bersedekah memberikan api, maka seolah² bersedekah segala sesuatu yang dimatangkan oleh api tersebut. Barang siapa bersedekah memberikan seteguk air minum kepada seseorang muslim pada saat tidak ditemukan air, maka seolah² ia memberikan kehidupan kepada orang tersebut."

Rasulullah ﷺ juga berkata:

"Ada empat keberkahan yang diturunkan Allah Swt dari langit ke bumi, yaitu: air, garam, api, dan besi.

📚[An-Nawadir. Hal. 123]


 💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT PULUH TIGA: HINANYA DUNIA DAN TERPUJINYA AKHIRAT"


Faedah: Menurut suatu riwayat, Allah Swt mewahyukan seratus empat belas ribu kalimat kepada Nabi Musa ﷺ dalam tiga hari. Di antara kalimat itu adalah:

"Wahai Musa, tidak ada seorang pun yang beramal kepada-Ku seperti amalnya seorang zuhud terhadap dunia, dan tidak ada seorang pun yang mendekat kepada-Ku seperti yang dilakukan oleh seseorang yang wara' atas sesuatu yang diharamkan kepada mereka, dan tidak ada seorang pun yang beribadah kepada-Ku seperti hamba yang menangis karena takut kepada-Ku."

Musa berkata:

"Wahai Tuhanku, apa yang Engkau sediakan untuk mereka..?? Dan dengan apa Engkau membalas untuk mereka..??"

Tuhan menjawab:

"Wahai Musa, adapun hamba yang zuhud, Aku telah memperbolehkan surga untuk mereka dan mereka boleh tinggal semaunya. Adapun orang wara', maka Aku masukkan mereka ke surga tanpa hisab sedikit pun. Sedangkan hamba yang menangis karena takut kepada-Ku, maka mereka memperoleh teman yang luhur, dan tidak ada yang menyamainya."

Sebagian berkata:

"Sesungguhnya iblis menawarkan dunia kepada manusia setiap hari dengan ungkapan: "Siapakah yang akan membeli sesuatu yang hanya membuat mudharat dan tidak bermanfaat kepadanya, yang hanya membuatnya sedih dan tidak menyenangkannya..??"

Lalu pengikut dan pencinta dunia berkata:

"Kami"

Iblis berkata:

"Harganya tidak berupa dirham dan dinar. Akan tetapi itu adalah bagian kalian di surga. Maka aku membelinya dengan empat hal, yaitu dengan laknat Allah Swt, marah-Nya, benci-Nya, dan adzab-Nya. Dan aku menjual surga dengan dunia."

Mereka menjawab:

"Kami rela atas itu."

"Aku ingin menambahkan kalian," kata Iblis.

"Baik," jawab mereka.

Maka iblis menjual mereka kepada dunia, dan berkata:

"Alangkah jeleknya perdagangan."

Wallaahu a’lam.

📚[An-Nawadir. 123_124]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT PULUH EMPAT: "KEUTAMAAN SIFAT ADIL DAN SIFAT PEMAAF BAGI RAJA"


Dikisahkan: Khalifah al-Makmun mendengar kabar perihal keadilan Raja Kisra. Kemudian al-Makmun berkata:

"Telah sampai kepadaku bahwa bumi tidak akan membusukkan mayat raja yang adil. Dan aku mempunyai maksud untuk membuktikan hal itu pada Raja Kisra."

Selanjutnya ia sendiri pergi ke negeri Raja Kisra. Sesampainya di sana, ia membuka kuburannya dan ia turun mendekat kepada mayat Raja Kisra. Lalu ia membuka wajahnya. Ternyata benar, Wajah Raja Kisra masih sangat tampan, pakaian yang dikenakan masih tetap utuh melekat pada tubuhnya dan tidak berubah sama sekali. Pada jari tangannya, al-Makmun melihat cincin dari batu permata merah, yang tidak pernah dipakai oleh para raja. Ia mempunyai tulisan berbahasa Persia. Semua itu membuat al-Makmun sangat kagum. Ia berkata:

"Ini adalah seorang Majusi ahli neraka. Akan tetapi Allah Swt tidak menyia²kan amal adilnya terhadap rakyat."

Kemudian al-Makmun memerintahkan pasukan untuk menutup tubuh Kisra dengan pakaian sutra yang dijahit dengan emas, dan mengembalikan seperti sebelumnya. Al-Makmun mempunyai seorang pembantu dari bangsa Khisshi, yang mana kepadanyalah ia membawakan cincin Kisra. Akan tetapi al-Makmun lalai dengan cincin itu sehingga si pembantu mengambilnya. Ketika al-Makmun mengingatnya kembali, ia meminta agar si pembantu dicambuk seribu kali dan mengembalikannya kepada keluarganya. Kemudian al-Makmun memerintahkan agar cincin tersebut dipakaikan kembali kepada Kisra, seraya berkata:

"Sesungguhnya cincin ini hendak menunjukkan aib kita di hadapan para raja, sehingga mereka akan mengatakan bahwa al-Makmun adalah penggali kubur Kisra (yang mengambil harta di dalamnya)."

Lalu al-Makmun memerintahkan agar kubur Kisra dilapisi dengan tembaga sehingga seorang pun tidak dapat membukanya.

📚[An-Nawadir. Hal. 124]


💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT PULUH LIMA: "ASAL MULA KITAB SERIBU SATU MALAM"


Dikisahkan: Salah seorang Raja dari Raja² Persia tatkala telah menikah dengan seorang perempuan dan bermalam bersamanya hanya satu malam saja, keesokan harinya perempuan itu dibunuhnya. Setelah itu, Raja menikah lagi dengan seorang perempuan suatu kerajaan yang sangat cerdas dan cepat memahami. Ketika Raja Persia tersebut hendak berkumpul dengannya, perempuan itu menyampaikan cerita² rekaan hingga malam habis. Akan tetapi perempuan tersebut menyisakan ceritanya dengan sengaja.

Pada malam berikutnya, perempuan tersebut meminta agar diizinkan melanjutkan ceritanya. Ia terus bercerita, bahkan pada malam² berikutnya, dan mencapai seribu malam. Meskipun demikian, Raja Persia tersebut tetap mengumpulinya. Istrinya hamil dan melahirkan seorang anak laki². Perempuan itu membawa si anak dan duduk di depan Raja. Lalu perempuan itu juga menceritakan siasat yang dilakukan kepadanya. Maka Raja pun mengakui kecerdasan istrinya. Sehingga meskipun itu adalah siasat, Raja memaafkan istrinya. Kemudian Raja menulis semua cerita istrinya dan menjadikannya sebagai sebuah kitab yang diberi nama dengan nama tersebut (Kitab seribu satu malam). Semua isinya adalah kebohongan yang sengaja diciptakan.

Sebagian berpendapat bahwa ini adalah asal mula munculnya khurafat di negeri Persia. Wallaahu a'lam.

📚[An-Nawadir. Hal. 125]


💧والله اعلم💧


HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT PULUH ENAM: "IKHLAS DALAM BERBUAT KARENA MENCARI RIDHA ALLAH SWT"


Diceritakan: 'Ali Radhiyallahu 'anh pernah membanting seorang laki² pada sebagian peperangan. 'Ali berhasil duduk di atas dadanya, dan ia hendak memotong leher laki² tersebut. Laki² itu pun meludahi wajah 'Ali, lalu 'Ali berdiri dan pergi begitu saja meninggalkannya. Ditanya tentang hal itu, 'Ali menjawab:

"Aku takut membunuh hanya karena aku marah sebab ia meludahiku. Aku tidak akan membunuh kecuali ikhlas demi Dzat Allah Swt semata."

📚[An-Nawadir. Hal. 125]


 💧والله اعلم💧

HIKAYAH YANG KE-SERATUS EMPAT PULUH TUJUH: "MEMULIAKAN TAMU"


(Keajaiban) Sebagian orang shalih berkata:

Termasuk adat kami adalah tidak mengunjungi perempuan. Akan tetapi aku mendengar seorang perempuan shalihah yang berada di suatu tempat terkenal sangat mulia. Maka ada kebutuhan yang mendorongku berkunjung kepadanya untuk mengetahui kemuliaannya.

Perempuan tersebut mempunyai seekor kambing yang mengeluarkan susu sekaligus madu. Ketika sampai di desa tempat ia tinggal, aku membeli sebuah mangkuk. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju rumahnya. Setelah sampai di rumahnya, aku memberikan mangkuk tersebut kepadanya, sambil berkata:

"Aku ingin melihat kemuliaan ini yang terdapat pada kambingmu."

"Dengan senang hati," ungkapnya.

Kemudian ia menggiring kambingnya ke hadapanku dan mempersilakan aku memeras susu kambing tersebut. Maka aku pun memeras susu dan madu dari kambingnya itu, lalu kami meminum susu dan madu tersebut. Tatkala aku lihat yang demikian, aku pun sangat kagum. Lalu aku bertanya kepadanya tentang kisah kambing tersebut.

"Ya," jawabnya, "kami mempunyai seekor kambing yang perahan susunya untuk anak² kami, dan selain itu, kami tidak mempunyai apa². Kemudian hari raya 'id datang. Suamiku meminta agar kambing tersebut disembelih untuk perayaan 'id. Aku menolaknya, sebab Allah Swt telah memberikan kemurahan melalui kambing itu, dan Dia mengetahui kebutuhan kami pada kambing itu. Lalu suamiku mengurungkan niatnya. Ia adalah seorang suami yang shalih.

"Secara kebetulan, seorang tamu datang pada hari itu. Kami tidak mempunyai apa² sebagai jamuan. Aku berkata kepada suamiku; Dia seorang tamu. Kita diperintahkan untuk menghormatinya. Maka ambillah kambing ini dan sembelihlah.

"Setelah ucapan itu, aku takut anak² kami akan menangis. Aku berkata lagi kepada suamiku; Bawalah kambing ini ke luar rumah di belakang dinding. Sehingga mereka tidak mengetahuinya. Sembelih kambing itu di sana."

"Tatkala suamiku telah mengalirkan darahnya, dengan sangat mengejutkan, kambing itu melompat dari balik dinding. Maka aku berkata: Barangkali peganganmu kurang kuat sehingga lepas.

"Kemudian aku keluar untuk melihatnya. Masyaallah, ternyata suamiku menguliti kambing itu di luar. Aku berkata kepada suamiku: "Suamiku, ini benar² aneh" Aku pun menceritakan apa yang aku lihat dari dalam rumah.

"Lalu suamiku berkata: Semoga Allah Swt mengganti yang lebih baik kepada kita." Dan benar, kami mendapatkan kambing yang bisa mengeluarkan susu dan madu."

Aku berkata: "Alangkah ajaibnya, kambing itu menghasilkan susu, sementara kambing ini menghasilkan susu dan madu dengan berkah kami memuliakan tamu kami. Allah Swt adalah Dzat Yang Paling Mulia."

📚[An-Nawadir. Hal. 125_126]


💧والله اعلم💧


Tidak ada komentar:

Posting Komentar