بِــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــسْمِ
اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ ܀
الْحَـــــــــــــــــــــيـَاءَ مِنْ الْإِيـــْـــــــــــــــمَانِ
MALU ADALAH BAGIAN DARI IMAN
1. PENDAHULUAN
الحمدلله
وحده. و الصّلاة و السّلام على من لا نبي بعده. و على اله و اصحابه ..
Segala puji bagi Allahu Robb yang
tiada sekutu bagiNya. KepadaNya lah kami memohon pertolongan, petunjuk dan
ampunan. Serta berlindung dari kejahatan dan buruknya perbuatan. Dan hamba
bersaksi bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya.
Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah dan tercurahkan kepada junjungan
Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan umatnya yang mengikuti jejak
langkahnya menuju Ridho Allah SWT. Sesungguhnya perkataan terbaik, terindah,
dan paling benar ialah Kalamullah fi Kitabih, dan sebaik-baiknya penunjuk
adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW yang berakhlaq layaknya Al-Qur’anul Karim.
Sifat wajib bagi Allah dan sifat
yang Mustahil bagiNya masing-masing ada 20. Dan Allah pun memeiliki sifat Jaiz.
Manusia pun diciptakan dengan karakter dan sifatnya masing-masing. Salah satu
sifat manusia adalah Malu. Dalam beberapa hadits ditegaskan bahwa Malu adalah bagian
dari Iman.
Dalam metode ini, penulis akan
mencoba menyebutkan, menerangkan dan membandingkan dalil (hadits-hadits) yang
berhubungan dengan judul diatas. Hadits-hadits disini merupakan kutipan dari
Kitab 9 Imam yang pada akhirnya akan dibuat kesimpulan apakah hadits tersebut
dapat dijadikan hujjah/tidak. Dan berbagai hal rinci lain yang akan dibahas
satu persatu.
Namun penelitian ini hanyalah hasil
kerja manusia berdasarkan kemampuannya. Jika hasilnya baik itu semua berasal
dari Allah SWT semata dan Taufik-Nya. Dan jika tidak, maka kesalahan adalah
dari diri saya, setan, dan kehendak Allah SWT.
Semoga dengan hasil penelitian ini
dapat menjadi sumbangan pemikiran, penyemangat generasi muslim agar memahami
hadits dan ilmu hadits, serta sebagai tambahan ilmu akan sejumlah hadits tentang
Malu
adalah bagian dari Iman yang insya Allah bermanfa’at dalam
kehidupan umat Islam.
Dalam penelitian ini, kami mencari hadits-hadits yang berkaitan dengan
judul diatas dengan kata kunci “ Malu adalah bagian dari iman “ pada Software Kitab Hadits 9 Imam.
Kemudian kami tentukan untuk men-Takhriij dari setiap Kitab Hadits yang
terdapat didalamnya hadits-hadits mengenai Malu adalah bagian dari Iman.
Sehingga Tabel Hasil Penulusuran Hadits tersebut adalah
sebagai berikut:
|
NO
|
KITAB
|
HADITS
Malu adalah bagian
dari Iman
|
HADITS
YANG DITAKHRIIJ
|
NOMOR
HADITS
|
|
1
|
Bukhori
|
2
Hadits
|
2
Hadits
|
8
dan 23
|
|
2
|
Tirmidzi
|
1
Hadits
|
1
Hadits
|
1932
|
|
3
|
Malik
|
1
Hadits
|
1
Hadits
|
1407
|
2.
MATAN HADITS
Dari Kitab Imam Bukhori Ditakhrij 2 Hadits
1. (Hadits No. 8)
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ
بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ
الْإِيمَانِ
(BUKHARI - 8)
Telah menceritakan
kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju'fi dia berkata, Telah menceritakan
kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqadi yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada
kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu
Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Iman
memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman".
2.
(Hadits Bukhori No.23)
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا
مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ
أَبِيهِ
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ
الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(BUKHARI - 23)
Telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada
kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari bapaknya,
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan melewati seorang sahabat
Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan saudaranya tentang malu. Maka
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tinggalkanlah dia,
karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman".
Dari
Kitab Imam Tirmidzi Ditakhrij 1 Hadits
(Hadits
No. 1932)
•حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
•قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
•قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي بَكْرَةَ وَأَبِي أُمَامَةَ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
•(TIRMIDZI
- 1932) : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada
kami Abdah bin Sulaiman dan Abdurrahim dan Muhammad bin Bisyr dari Muhammad bin
Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sifat malu adalah bagian dari
iman, sedangkan iman itu tempatnya di dalam
surga. Perkataan yang keji itu berasal dari watak dan perangai yang keras,
sedangkan kekerasan itu tempatnya di dalam neraka." Abu Isa berkata;
Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, Abu Bakrah, Abu Umamah, Imran
bin Husain. Hadits ini adalah hasan shahih.
Dari
Kitab Imam Ahmad Ditakhrij 1 Hadits
|
و
حَدَّثَنِي عَنْ
مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عُمَرَ
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ
يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ
الْإِيمَانِ
|
MALIK - 1407)
Telah menceritakan kepadaku Malik dari Ibnu Syihab
dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam melewati seseorang yang sedang menasehati saudaranya yang
pemalu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda:
"biarkanlah ia, karena malu adalah bagian dari iman."
3.
PERBANDINGAN REDAKSI MATAN
|
1 |
Bukhori |
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي
الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ
فَإِنَّ الْحَيَاءَ
مِنْ الْإِيمَان
|
Abdur Rahman bin Shakhr
|
|
2 |
Tirmidzi |
الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي
الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
|
Abdur
Rahman bin Shakhr
|
|
3 |
Malik |
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ |
|
4. KAJIAN SANAD
TABEL PERIWAYATAN HADITS I
(Bukhori: 8)
|
NO
|
NAMA
PERIWAYAT
|
URUTAN
SEBAGAI PERAWI
|
URUTAN
SEBAGAI SANAD
|
|
1
|
Ke - 1
|
Ke - 6
|
|
|
2
|
Ke - 2
|
Ke - 5
|
|
|
3
|
Ke - 3
|
Ke - 4
|
|
|
4
|
Ke - 4
|
Ke - 3
|
|
|
5
|
Ke - 5
|
Ke - 2
|
|
|
6
|
Ke - 6
|
Ke - 1
|
|
|
7
|
Bukhori
|
Ke - 7
|
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )
|
TABEL PERIWAYATAN HADITS II
(Bukhori: 23)
|
NO
|
NAMA
PERIWAYAT
|
URUTAN
SEBAGAI PERAWI
|
URUTAN
SEBAGAI SANAD
|
|
1
|
Ke - 1
|
Ke – 5
|
|
|
2
|
Ke - 2
|
Ke – 4
|
|
|
3
|
Ke - 3
|
Ke – 3
|
|
|
4
|
Ke - 4
|
Ke – 2
|
|
|
5
|
Ke - 5
|
Ke – 1
|
|
|
6
|
Bukhori
|
Ke - 6
|
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )
|
|
Jalur II
|
NO
|
NAMA
PERIWAYAT
|
URUTAN
SEBAGAI PERAWI
|
URUTAN
SEBAGAI SANAD
|
|
1
|
Ke - 1
|
Ke - 5
|
|
|
2
|
Ke - 2
|
Ke - 4
|
|
|
3
|
Ke - 3
|
Ke - 3
|
|
|
4
|
Ke - 4
|
Ke - 2
|
|
|
5
|
Ke - 5
|
Ke - 1
|
|
|
6
|
Tirmidzi
|
Ke - 6
|
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )
|
Jalur III
|
NO
|
NAMA
PERIWAYAT
|
URUTAN
SEBAGAI PERAWI
|
URUTAN
SEBAGAI SANAD
|
|
1
|
Ke - 1
|
Ke - 5
|
|
|
2
|
Ke - 2
|
Ke - 4
|
|
|
3
|
Ke - 3
|
Ke - 3
|
|
|
4
|
Ke - 4
|
Ke - 2
|
|
|
5
|
Ke - 5
|
Ke - 1
|
|
|
6
|
Tirmidzi
|
Ke - 6
|
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )
|
TABEL PERIWAYATAN HADITS IV
(Malik: 1407)
|
NO
|
NAMA
PERIWAYAT
|
URUTAN
SEBAGAI PERAWI
|
URUTAN
SEBAGAI SANAD
|
|
1
|
Ke - 3
|
Ke - 3
|
|
|
2
|
Ke - 4
|
Ke - 2
|
|
|
3
|
Ke - 5
|
Ke - 1
|
|
|
4
|
Malik
|
Ke - 6
|
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )
|
5. I’TIBAR
A. Perbandingan Matan
PENELITIAN SUSUNAN LAFADZ
Berdasarkan
hadits dari masing-masing kitab yang ditemukan dari kitab Imam Bukhari, Imam
Tirmidzi dan Imam Malik tersebut memiliki perbedaan dalam teks matannya.
Tetapi, mufrodat/kalimat yang menjelaskan bahwa Malu Bagian
Dari Iman menggunakan kalimat yang sama, yaitu dengan kalimat الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ . Dan lafadz-lafadz dalam hadits Bukhori
no.23 sama persis dengan hadists Imam Malik
Sedangkan perbedaan tersebut
diantaranya adalah ;
¨
Pada
hadits Bukhori no.8, terdapat tambahan kalimat شُعْبَةٌ menjadi الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ . شُعْبَةٌ yang artinya adalah potongan. Pada hadits ini arti yang
lebih tepat adalah cabang atau bagian.
¨
Dalam hadits
Imam Bukhori no.23 dan Imam Malik, kalimat الحياء dibaca الْحَيَاءَkarena
sebelumnya didahului hurufإِنَّ .Setiap kata setelah إِنَّ dibaca nasab, kalimat الحياء nasab dengan fathah karena merupakan isim mufrod.
¨ Sedangkan pada hadits lain dibaca الْحَيَاءُ karena
kedudukannya sebagai mubtada atau ‘athof terhadap kalimat sebelumnya (ma’thuf).
Perbedaan tersebut di atas adalah akibat adanya periwayatan hadits
secara makna. Dengan demikian, perbedaan itu tidak mempengaruhi kualitas matan
hadits yang diteliti. Ini berarti bahwa matan hadits yang dimaksud adalah
shahih.
B. Penjelasan Matan
PENELITIAN KANDUNGAN MATAN
v Secara bahasa al-hayaa' (الْحَيَاءُ)
adalah perubahan yang ada pada diri seseorang karena takut melakukan perbuatan
yang dapat menimbulkan aib. Sedangkan secara terminologi, berarti perangai yang
mendorong untuk menjauhi sesuatu yang buruk dan mencegah untuk tidak memberikan
suatu hak kepada pemiliknya.
Disebutkannya malu secara khusus dalam hadits ini adalah karena sifat malu adalah motivator yang akan memunculkan cabang iman yang lain, sebab dengan malu seseorang merasa takut melakukan perbuatan yang buruk di dunia dan akhirat sehingga malu bisa berfungsi untuk memerintah dan menghindari atau mencegah. Demikian dijelaskan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari..
Disebutkannya malu secara khusus dalam hadits ini adalah karena sifat malu adalah motivator yang akan memunculkan cabang iman yang lain, sebab dengan malu seseorang merasa takut melakukan perbuatan yang buruk di dunia dan akhirat sehingga malu bisa berfungsi untuk memerintah dan menghindari atau mencegah. Demikian dijelaskan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari..
v Kandungan
matan hadits yang diteliti menjelaskan tentang penegasan bahwa Iman
adalah Bagian dari Iman.
v Berdasarkan hadits Bukhori no. 8 dan
hadits Tirmidzi, Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan
malu dalam hadits di atas adalah malu yang sesuai dengan syara’ (hukum agama).
Apabila isi hadits yang menyatakan
bahwa rasa malu sebagian dari iman, jelaslah bahwa pribadi yang mempunnyai rasa
malu dalam arti yang benar, sangat bertautan dengan masalah kadar keimanan
seseorang.
Justru itulah yang dikatakan Rasulullah saw
dalam haditsnya
إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
إِذَ لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
”Apabila kalian tidak mempunyai rasa malu lagi, maka
berbuatlah apa yang engkau kehendaki.” (HR.
Bukhari)
Bahwa
rasa malu bisa menjadi tameng bagi manusia. Bisa mencegah seseorang melakukan
hal-hal yang tidak pantas apalagi maksiat dan dosa. Dan bila tidak ada rasa
malu, maka seseorang bisa melakukan apa saja sesukanya sesuai dengan hadits di
atas.
v Begitu hebatnya
pengaruh rasa malu terhadap kehidupan, dapat memberi pengaruh yang sangat
positip bila rasa malu kita tanamkan didalam hati, untuk tidak melakukan
hal-hal yang melanggar hukum agama dan masyarakat, dan kita pun masih diberi
akal yang sehat untuk berpikir yang mana yang baik dan mana yang tidak baik,
seperti firman Allah Didalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 179
v Sedangkan berdasarkan hadits Imam
Bukhori no.23 dan hadits Imam Malik, istilah
hadits yang demikian itu disebut "hadits taqriri". Dalam hadits ini
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa yang benar justru adalah tidak menghilangkan
rasa malu dalam diri saudaranya. Biarkan saja seseorang memiliki sifat malu. Ia
adalah akhlak yang disunnahkan. Malu adalah sebagian dari iman.
Rasa
malu yang dimaksud disini adalah rasa malu terhadap Allah swt jika terbesit
ingin melakukan hal-hal yang berdosa, keji dan munkar. Bukanlah malu disini
malu pada suatu tindakan atau perbuatan disaat kita tidak percaya diri
dihadapan manusia, padahal tindakan itu baik dan benar. Seperti malu saat
mengajarkan masalah-masalah agama dan saat mencari kebenaran, ceramah dll. Hal
tersebut dilarang Allah swt, sebagaimana Allah swt berfirman,
وَاللهُ
لَا يَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ ………
Artinya : “Dan Allah
tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS.
Al-Ahzab : 53).
Sebagian ulama berkata,
"Takutlah kepada Allah sebesar kekuasaan-Nya atas dirimu, dan malulah
kepada- Nya sebesar kedekatan-Nya kepada dirimu." Wallahu A’lam.
Keselarasan kandungan matan hadits dengan
Firman-firman Allah, Hadits Nabi, dan Kalam ‘ulama diatas menunjukkan bahwa
matan hadits dimaksud tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hukum syara’.
Maka dapat disimpulkan bahwa matan hadits-hadits tersebut adalah shahih.
6. JALUR DAN SKEMA SANAD
•رسول الله
•صلّى الله عليه و سلّم
•أَبُوْ هُرَيْرَة
•W. 57 H
•ذَكْوَان
•W. 101 H
•عَبْد الله ابْن دِينْاَر
•W. 127 H
•سُلَيْمَان ابْن بِلَال
•W. 172 H
•عَبْدُالله ابْن عَمْرُو
•W. 204 H
•عَبْدُالله ابْن مُحَمَّد الْجُعْفِي
•W. 229 H
•بُخَارِي
Tidak ada komentar:
Posting Komentar