Senin, 23 November 2015



بِــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــمِ  ܀
الْحَـــــــــــــــــــــيـَاءَ مِنْ الْإِيـــْـــــــــــــــمَانِ
MALU ADALAH BAGIAN DARI IMAN

1.  PENDAHULUAN
            الحمدلله وحده. و الصّلاة و السّلام على من لا نبي بعده. و على اله و اصحابه ..
Segala puji bagi Allahu Robb yang tiada sekutu bagiNya. KepadaNya lah kami memohon pertolongan, petunjuk dan ampunan. Serta berlindung dari kejahatan dan buruknya perbuatan. Dan hamba bersaksi bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah RasulNya. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah dan tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan umatnya yang mengikuti jejak langkahnya menuju Ridho Allah SWT. Sesungguhnya perkataan terbaik, terindah, dan paling benar ialah Kalamullah fi Kitabih, dan sebaik-baiknya penunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW yang berakhlaq layaknya Al-Qur’anul Karim.
Sifat wajib bagi Allah dan sifat yang Mustahil bagiNya masing-masing ada 20. Dan Allah pun memeiliki sifat Jaiz. Manusia pun diciptakan dengan karakter dan sifatnya masing-masing. Salah satu sifat manusia adalah Malu. Dalam beberapa hadits ditegaskan bahwa Malu adalah bagian dari Iman.
Dalam metode ini, penulis akan mencoba menyebutkan, menerangkan dan membandingkan dalil (hadits-hadits) yang berhubungan dengan judul diatas. Hadits-hadits disini merupakan kutipan dari Kitab 9 Imam yang pada akhirnya akan dibuat kesimpulan apakah hadits tersebut dapat dijadikan hujjah/tidak. Dan berbagai hal rinci lain yang akan dibahas satu persatu.
Namun penelitian ini hanyalah hasil kerja manusia berdasarkan kemampuannya. Jika hasilnya baik itu semua berasal dari Allah SWT semata dan Taufik-Nya. Dan jika tidak, maka kesalahan adalah dari diri saya, setan, dan kehendak Allah SWT.
Semoga dengan hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran, penyemangat generasi muslim agar memahami hadits dan ilmu hadits, serta sebagai tambahan ilmu akan sejumlah hadits tentang Malu adalah bagian dari Iman yang insya Allah bermanfa’at dalam kehidupan umat Islam.

Dalam penelitian ini, kami mencari hadits-hadits yang berkaitan dengan judul diatas dengan kata kunci “ Malu adalah bagian dari iman  “ pada Software Kitab Hadits 9 Imam. Kemudian kami tentukan untuk men-Takhriij dari setiap Kitab Hadits yang terdapat didalamnya hadits-hadits mengenai Malu adalah bagian dari Iman.
Sehingga Tabel Hasil Penulusuran Hadits tersebut adalah sebagai berikut:


NO
KITAB
HADITS
Malu adalah bagian dari Iman
HADITS YANG DITAKHRIIJ
NOMOR HADITS
1
Bukhori
2 Hadits
2 Hadits
8 dan 23
2
Tirmidzi
1 Hadits
1 Hadits
1932
3
Malik
1 Hadits
1 Hadits
1407
  

2. MATAN HADITS

 Dari Kitab Imam Bukhori Ditakhrij 2 Hadits
 1. (Hadits No. 8)
 
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

(BUKHARI - 8)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju'fi dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqadi yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman".
 
2. (Hadits Bukhori No.23)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ

(BUKHARI - 23)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan saudaranya tentang malu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman".
 
Dari Kitab Imam Tirmidzi Ditakhrij 1 Hadits
(Hadits No. 1932)

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ وَعَبْدُ الرَّحِيمِ وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو
حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي بَكْرَةَ وَأَبِي أُمَامَةَ وَعِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
 
(TIRMIDZI - 1932) : Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abdah bin Sulaiman dan Abdurrahim dan Muhammad bin Bisyr dari Muhammad bin Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sifat malu adalah bagian dari iman, sedangkan iman itu tempatnya di dalam surga. Perkataan yang keji itu berasal dari watak dan perangai yang keras, sedangkan kekerasan itu tempatnya di dalam neraka." Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, Abu Bakrah, Abu Umamah, Imran bin Husain. Hadits ini adalah hasan shahih.



Dari Kitab Imam Ahmad Ditakhrij 1 Hadits
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
(Hadits No. 21484) 


MALIK - 1407)
Telah menceritakan kepadaku Malik dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati seseorang yang sedang menasehati saudaranya yang pemalu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda: "biarkanlah ia, karena malu adalah bagian dari iman."


3. PERBANDINGAN REDAKSI MATAN





1







Bukhori

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَان



Abdur Rahman bin Shakhr






2



Tirmidzi

الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنْ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ
Abdur Rahman bin Shakhr




3




Malik

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ



 
4. KAJIAN SANAD

TABEL PERIWAYATAN HADITS I
(Bukhori: 8)
NO
NAMA PERIWAYAT
URUTAN SEBAGAI PERAWI
URUTAN SEBAGAI SANAD
1
Ke - 1
Ke - 6
2
Ke - 2
Ke - 5
3
Ke - 3
Ke - 4
4
Ke - 4
Ke - 3
5
Ke - 5
Ke - 2
6
Ke - 6
Ke - 1
7
Bukhori
Ke - 7
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )

TABEL PERIWAYATAN HADITS II
(Bukhori: 23)
NO
NAMA PERIWAYAT
URUTAN SEBAGAI PERAWI
URUTAN SEBAGAI SANAD
1
Ke - 1
Ke – 5
2
Ke - 2
Ke – 4
3
Ke - 3
Ke – 3
4
Ke - 4
Ke – 2
5
Ke - 5
Ke – 1
6
Bukhori
Ke - 6
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )


TABEL PERIWAYATAN HADITS II
(Bukhori: 23)
NO
NAMA PERIWAYAT
URUTAN SEBAGAI PERAWI
URUTAN SEBAGAI SANAD
1
Ke - 1
Ke – 5
2
Ke - 2
Ke – 4
3
Ke - 3
Ke – 3
4
Ke - 4
Ke – 2
5
Ke - 5
Ke – 1
6
Bukhori
Ke - 6
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )







TABEL PERIWAYATAN HADITS III
(Tirmidzi: 1932)
Jalur I
NO
NAMA PERIWAYAT
URUTAN SEBAGAI PERAWI
URUTAN SEBAGAI SANAD
1
Ke - 1
Ke - 5
2
Ke - 2
Ke - 4
3
Ke - 3
Ke - 3
4
Ke - 4
Ke - 2
5
Ke - 5
Ke - 1
6
Tirmidzi
Ke - 6
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )




Jalur II
NO
NAMA PERIWAYAT
URUTAN SEBAGAI PERAWI
URUTAN SEBAGAI SANAD
1
Ke - 1
Ke - 5
2
Ke - 2
Ke - 4
3
Ke - 3
Ke - 3
4
Ke - 4
Ke - 2
5
Ke - 5
Ke - 1
6
Tirmidzi
Ke - 6
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )
Jalur III
NO
NAMA PERIWAYAT
URUTAN SEBAGAI PERAWI
URUTAN SEBAGAI SANAD
1
Ke - 1
Ke - 5
2
Ke - 2
Ke - 4
3
Ke - 3
Ke - 3
4
Ke - 4
Ke - 2
5
Ke - 5
Ke - 1
6
Tirmidzi
Ke - 6
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )
TABEL PERIWAYATAN HADITS IV
(Malik: 1407)
NO
NAMA PERIWAYAT
URUTAN SEBAGAI PERAWI
URUTAN SEBAGAI SANAD
1
Ke - 3
Ke - 3
2
Ke - 4
Ke - 2
3
Ke - 5
Ke - 1
4
Malik
Ke - 6
( مُخَرِّجُ الْحَدِيْثُ )
5. I’TIBAR
A. Perbandingan Matan
PENELITIAN SUSUNAN LAFADZ
Berdasarkan hadits dari masing-masing kitab yang ditemukan dari kitab Imam Bukhari, Imam Tirmidzi dan Imam Malik tersebut memiliki perbedaan dalam teks matannya. Tetapi, mufrodat/kalimat yang menjelaskan bahwa Malu Bagian Dari Iman menggunakan kalimat yang sama, yaitu dengan kalimat  الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ  . Dan lafadz-lafadz dalam hadits Bukhori no.23 sama persis dengan hadists Imam Malik
 Sedangkan perbedaan tersebut diantaranya adalah ;
¨      Pada hadits Bukhori no.8, terdapat tambahan kalimat  شُعْبَةٌ menjadi  الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ  . شُعْبَةٌ yang artinya adalah potongan. Pada hadits ini arti yang lebih tepat adalah cabang atau bagian.
¨      Dalam hadits Imam Bukhori no.23 dan Imam Malik, kalimat الحياء dibaca   الْحَيَاءَkarena sebelumnya didahului hurufإِنَّ  .Setiap kata setelah إِنَّ dibaca nasab, kalimat الحياء nasab dengan fathah karena merupakan isim mufrod.
¨       Sedangkan pada hadits lain dibaca  الْحَيَاءُ karena kedudukannya sebagai mubtada atau ‘athof terhadap kalimat sebelumnya (ma’thuf).
Perbedaan tersebut di atas adalah akibat adanya periwayatan hadits secara makna. Dengan demikian, perbedaan itu tidak mempengaruhi kualitas matan hadits yang diteliti. Ini berarti bahwa matan hadits yang dimaksud adalah shahih.
B. Penjelasan Matan
PENELITIAN KANDUNGAN MATAN
v  Secara bahasa al-hayaa' (الْحَيَاءُ) adalah perubahan yang ada pada diri seseorang karena takut melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan aib. Sedangkan secara terminologi, berarti perangai yang mendorong untuk menjauhi sesuatu yang buruk dan mencegah untuk tidak memberikan suatu hak kepada pemiliknya.
Disebutkannya malu secara khusus dalam hadits ini adalah karena sifat malu adalah motivator yang akan memunculkan cabang iman yang lain, sebab dengan malu seseorang merasa takut melakukan perbuatan yang buruk di dunia dan akhirat sehingga malu bisa berfungsi untuk memerintah dan menghindari atau mencegah.
Demikian dijelaskan Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Baari..
v Kandungan matan hadits yang diteliti menjelaskan tentang penegasan bahwa Iman adalah Bagian dari Iman.
v  Berdasarkan hadits Bukhori no. 8 dan hadits Tirmidzi, Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan malu dalam hadits di atas adalah malu yang sesuai dengan syara’ (hukum agama).
Apabila isi hadits yang menyatakan bahwa rasa malu sebagian dari iman, jelaslah bahwa pribadi yang mempunnyai rasa malu dalam arti yang benar, sangat bertautan dengan masalah kadar keimanan seseorang.
 Justru itulah yang dikatakan Rasulullah saw dalam haditsnya
إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
إِذَ لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

”Apabila kalian tidak mempunyai rasa malu lagi, maka berbuatlah apa yang engkau kehendaki.” (HR. Bukhari)
Bahwa rasa malu bisa menjadi tameng bagi manusia. Bisa mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak pantas apalagi maksiat dan dosa. Dan bila tidak ada rasa malu, maka seseorang bisa melakukan apa saja sesukanya sesuai dengan hadits di atas.
v  Begitu hebatnya pengaruh rasa malu terhadap kehidupan, dapat memberi pengaruh yang sangat positip bila rasa malu kita tanamkan didalam hati, untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum agama dan masyarakat, dan kita pun masih diberi akal yang sehat untuk berpikir yang mana yang baik dan mana yang tidak baik, seperti firman Allah Didalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 179

v  Sedangkan berdasarkan hadits Imam Bukhori no.23 dan hadits Imam Malik, istilah hadits yang demikian itu disebut "hadits taqriri". Dalam hadits ini Rasulullah SAW mengingatkan bahwa yang benar justru adalah tidak menghilangkan rasa malu dalam diri saudaranya. Biarkan saja seseorang memiliki sifat malu. Ia adalah akhlak yang disunnahkan. Malu adalah sebagian dari iman.
Rasa malu yang dimaksud disini adalah rasa malu terhadap Allah swt jika terbesit ingin melakukan hal-hal yang berdosa, keji dan munkar. Bukanlah malu disini malu pada suatu tindakan atau perbuatan disaat kita tidak percaya diri dihadapan manusia, padahal tindakan itu baik dan benar. Seperti malu saat mengajarkan masalah-masalah agama dan saat mencari kebenaran, ceramah dll. Hal tersebut dilarang Allah swt, sebagaimana Allah swt berfirman,
وَاللهُ لَا يَسْتَحْيِ مِنَ الْحَقِّ ………

Artinya : “Dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar.” (QS. Al-Ahzab : 53).

Sebagian ulama berkata, "Takutlah kepada Allah sebesar kekuasaan-Nya atas dirimu, dan malulah kepada- Nya sebesar kedekatan-Nya kepada dirimu." Wallahu A’lam.

Keselarasan kandungan matan hadits dengan Firman-firman Allah, Hadits Nabi, dan Kalam ‘ulama diatas menunjukkan bahwa matan hadits dimaksud tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan hukum syara’. Maka dapat disimpulkan bahwa matan hadits-hadits tersebut adalah shahih.

6. JALUR DAN SKEMA SANAD
 

رسول الله
صلّى الله عليه و سلّم
أَبُوْ هُرَيْرَة
W. 57 H
ذَكْوَان
W. 101 H
عَبْد الله ابْن دِينْاَر
W. 127 H
سُلَيْمَان ابْن بِلَال
W. 172 H
عَبْدُالله ابْن عَمْرُو
W. 204 H
عَبْدُالله ابْن مُحَمَّد الْجُعْفِي
W. 229 H
بُخَارِي